RSS

WAHAI ANAKU

11 Feb

Alhamdulillah.
Segala puji hanya bagi Allah. Sholawat serta salam semoga senantiasia tercurah kepada junjungan nabi Muhammad saw.

Alhamdulillah saat ini saya coba untuk menuliskan kembali salah satu terjemahan dari karangan imam Al Ghazali. Dari buku yg berjudul “Ayuhal Walad”
Di tengah himpitan ekonomi yang terus menjepit. Dan memang sangat sulit untuk menempuh jalan sufi ini walaupun kita telah membaca banyak.kitab dan berbagai macam disiplin ilmu telah kita kuasai. Namun saat masalah ekonomi menjerat kadang itu menjadi penghalang dan membuat hati bimbang. Maka di antara kesempitan itu saya coba untuk menuliskan terjemah buku ini. Semoga bisa menjadi peneguh dan penyemangat saya. Dan berguna bagi para pembaca.

WAHAI ANAKU

Judul Asli
Ayyuhal Al-Walad

Penulis
Imam Al Ghazali

Mukodimah

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah,
Dialah Tuhan yang menggengam semesta ini.
Dia pula yang menjanjikan akhir yang gemilang buat oeang-orang bertakwa.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan ke haribaan baginda yang mulia Nabi Besar Muhmmad saw. Begitu pula kepada seluruh keluarganya. Amin.

Langsung saja, saudaraku, alkisah ada seorang murid taat yang boleh dibilang telah lama menimba ilmu kepada syaikh Imam Zainudin Hujatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al-Gazali atau  Al-Ghazli begitu saja orang menyebutnya.  Begitulah memang seorang ulama besar itu akrab dipanggil dalam dunia Islam.meski sekarang sang murid hanya bisa menoakannya, semoga Allah mensucikan diri dan jiwa gurunya,  setidaknya ia telah meyerahkan segala pikiran dan tenaga untuk belajar, mengikuti seluruh pengajian an perkembangan keilmuan dari gurunya. Tuntas sudah ilmu yang ia inginkan. Pernik-pernik pengetahuan yang amat susah bahkan telah ia boyong kedalam dirinya. Semuanya sudah ia ungsikan ke otaknya, ia juga mencari kesempurnaan dalam keutamaan jiwanya, agar menjadi manusia yang lebih yang utama, dan yang mempunyai intgritas moral sampailah ia pada diriya sendiri, ia mulai berfikir dan mereungi dirinya sendiri, ia sadar, sesungguhnya ada keinginan lain yang belum lunas dan selalu saja bergemuruh dalam dirinya
“Aku mempelajari seluruh disiplin ilmu. Ku telah habiskan seluruh usiaku untuk belajar dan mengumpulkan pengetahuannya. Sekarang sudah saatnya aku mengetahui, mana diantara ilmu-ilmu itu yang bermanfaat di masa depanku dan memperhatikan nasibku nanti di dunia seteh kematianku. Manapula yag tidak ada gunanya bagiku sehingga aku harus menggalkannya. Bukankah dulu nabi muhammad pernah berdoa

“Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat” begitulah piran yanng selalu menjuntai di daam benak sang murid
kegelisahan kian menjadi-jadi sang murid memutuskan untuk menulis surat kepada guru, Al-ghazali, semoga Allah memberi rahmat padanya. Ya apalagi kalau buka meminta fatwa dari gurunya itu.ia bertanya banyak hal kepada gurunya, ia meminta nasihat dan doa. Meski guru telah menulis kitab ihya atau kitab-kitab yang lain yang telah jelas menjawab semua kegelisahanku, tapi aku ingin beliau menulis khusus untuku. Aku ingin sebuah tulisan  yang akan aku genggam hingga akhir hayatku dan aku persembahkan seluruh usiaku untuk mengamalkkannya ” tekad sang murid begitu kuatnya.
Karena itu. Buku yang ada di tangan para pembaca inilah sesungguhnya yang merupakan jawaban sang guru Al Ghazali. Beliau menjawab semua permintaan muridnya itu dengan karya ini. Ya inillah yang ditulis al ghazali untuk muridnya. Wallahu A’lam.

MENGAMALKAN PENGETAHUAN
Anaku, semga Allah menganugrahkanmu umur panjang agar kamu bertaat kepadaNya dan menempuh jalan yang disukaiNya. Ketahuilah, Nasihat ini sesunguhnya  menyeruak dari risalah yang terpendam. Karena itu, jika ia telah berhasil mengusung nasehat kepangkuanmu. Perkenankan aku bertanya, ada keperluan apa sebenarnya dirimu terhadap nasehatku ini? Namun jika ternyata belum, tolong atau coba katakan kepadaku , apa yang sebenarnya telah kamu dapatkan di tahun-tahun yang lalu? Aku ingin tahu . apakah yang kau dapatkan itu lebih bijak dari nasihatku ini? Itu saja

Anaku…, sebagian yang di nasehatkan oleh Nabi Muhmmad kepada umatnya adalah tanda-tanda keengganan Alllah menatap hambaNya sendiri

“Tanda bahwa Allah telah memulai meninggalkan hambaNya adalah ketika seorang hamba larut dalam kesibukan hal-hal yang sebenarnya Allah sendiri tidak menghendakiNya. Jika satu waktu saja usia orang lenyap demi sesuatu yang selain Allah maka bisa dimengerti seandainya kesegsaraannya dibuat menjadi semakin panjang. Siapa yang usianya lebih  dari empat puluh tahun , sedang perilaku bejatnya melebihi kebaikannya maka bersiaplah untuk ke neraka”
Begitulah sabda nabi.
Perlu kamu ketahui bahwa menerima nasihat itu mudah, akan tetapi mengamalkannya amat sulit. Bagi para pemuja hawa nafsu nasehat sama rasanya dengan menelan mentah-mentah  pil yang amat pahit. sebaliknya, sesuatu yang dilarang justru menjadi sangat digandrungi di hatinya. Apalagi bagi pemburu pengetahuan yang hanya formalitas saja. Begitu juga mereka yang hanya memanjakkan keinginan dan melunasi hasrat duniwi. Sungguh mereka menyangka
bahwa pengetahuan semata telah cukup dan telah sanggup membuat mereka
berhasil dan menuai segala cita-cita, nenggapai hari esok dan merengkuh masa depan.
Mereka tidak perlu mengamalkan ilmu, ilmu ya ilmu. Pengamalan adalan persoalan lain. Menggunakan pengetahuan bukanlah hal yang peting bagi mereka. Ya, inilah sebenamya yang menjadi akidah bagi para fislof selama ini. Subhanallah, sungguh mereka tida sadar bahwa diri mereka sedang terbujuk . Bukankah ketika seseorang menimba ilmu pegetahuan tetapi tidak mengamalkannya Justru telah di peringatkan oleh Nabi dalam sabdanya

“Manusia yang paling berat azabnya dihari kiamat adalah orang yang berilmu dan Allah tidak memberikan manfaat kepadanya dengan ilmunya  ”
Pernah ada  kisah, mendiang imam Junaid penah hadir dalam mimpi seseorang “Apa kabar Junaid?” junaid menjawab”Semua ibarat adalah sesat. Petunuk-petunjukpun telah lenyap tidak ada lagi yang memberikan manfaat kecuali rokaat-rokaat sholat pada pertengahan malam yang telah lama aku lakukan.”
Karena itu anakku janganlah engkau diam tapa mengamalkan ilmumu. Janganlah sikap dan keadaann kita saat ini tanpa arti yakinlah bukan pengetahuan yang membutuhkan tangan kita akan tetapi kitalah yang harus meghampiri dan mengamalannya.
Seandainya ada seorang laki-laki berdiri di tanah lapang dengan senjata mematikan di tangan, ia bukanlah seorang pengecut dan pecundang dan di depannya ada seekor singa buas yang  lapar siap menerkam. Sekarang coba katakan, bagaimana menurutmu? Apakah senjata-senjata di tanggannya dapat menghalau singa itu tanpa di gerakan?  Sungguh Pedang dan senjata yang ada di tangannya tak mampu berbuat apa-apa. Jika tidak ada tangan yang  menggerakannnya.
Begitu pula kiranya ilmu pengetahuan. Andai seseorang menguasai seribu macam ilmu pengetahuan beserta masalah-masalah pelik yang disuguhkannya, namun ia tidak mengamalknnya, pecayalah, semua itu tidak ada artinya. Pengetahuan tanpa pengamalan sungguh tiada guna. Atau katakan saja ada orang yang diserang penyakit yang sangat melelahkan yang telah diketahui tidak akan sembuh keuali dengan izin Allah dan obat yang bernama “Sakkanjabin”. Karena itu, saya  berani memastikan keseembuhan  tidak akan datang kecuali si sakit meminum obat itu.

“Jika kau simpan seribu gantang arak, percayaah, ia takan membuatmu mabuk  kecuali enggkau meminumnya” 
Jika kau belajar seribu tahun, kau karang seribu buku, percayalah kau tetap tak layak menerima rahmat Tuhan, kecuali engkau amalkan apa yang telah kau dapatkan itu. Bukankah Tuhan telah berfiman dalam Al-Qur’an

“Dan bahwasanya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya ” (QS. An Najm: 39)
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh.” (QS. Al-Kahfi: 110)

“Sebagai balasan dari apa yang mereka kerjakan,” (QS. At Taubah: 82)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya,mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya” (QS. Al-Kahfi: 107-108)

“Maka datanglah setelah mereka, pengganti-pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan  memperturutkan hawa nafsu, mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh,maka mereka akan masuk surga dan tidak akan di aniaya sedikitpun” ( QS. Maryam 59-60)

Bersambung….
Insya Allah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2015 in sufi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: