RSS

Terjemah Minhajul Abidin bagian 5

28 Agu

Adapun yang dimaksud dengan ilmu ialah Ilmu untuk mengetahui cara-canya menempuh jalan kepada keridoan Allah, dan yang dapat mendekatkan orang kepada-Nya, dan apa-apa yang menjauhkan dia dari ..Allah S.W.T. Dan mengetahui pula musibah-musibah, pendakian-pendakian dan bahaya-bahaya dalam perjalanan itu, kesemuanya itu banyak diterangkan dalam kitab ini.
Selanjutnya, setelah keterangan-keterangan mengenai goflah dan gurur, maka ketahuilah pula mengenai amal-amal lahir seperti salat, puasa dsb.nya, itu semua ada hubungannya dengan amal batin yang akan memperbaiki atau merusak amal lahir, seperti : ikhlas; ikhlas dapat menjadikan baik amal lahir.
Amal batin yang merusak amal lahir, ialah seperti r i y a, ujub, dzikrulminnah dan sebagainya; kesemuanya ini akan diterangkan nanti pada babnya masing-masing.
Siapa yang tidak mengetahui amal batin dan tidak mengetahui akan pengaruhnya terhadap ibadah lahir dan tidak tahu -pula cara-caranya agar jangan ada, akibatnya sedikit sekali yang selamat daripadanya dan mereka luput/kehilangan pahala taat lahir dan batin, dan yang ada pada tangan mereka hanya kecelakaan dan kepayahan, dan yang demikian itu suatu kerugian yang nyata.
Oleh karenanya, Rasulullah SAW. telah bersabda mengenai ilmu
Artinya :
“Bahwasanya tidur dalain keadaan berilmu, lebih baik daripada salat dalam keadaan bodoh”.
Karena yang beramal tanpa ilmu, lebih banyak rusaknya daripada benarnya, dan sabda Rasulullah S.A.W. tentang ilmu :

Bahwasanya ilmu itu diilhamkan kepada orang-orang yang bahagia, dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.
Dan makna hadits ini ialah bahwasanya salah satu dari dua kecelakaan dari orang yang beramal tanpa ilmu; pertama : ia tidak belajar i1mu, kemudian ia merasa payah dan lelah dalam mengerjakan ibadah yang telah rusak; bagiannya hanya kepayahan belaka.
Semoga Allah melindungi kita dari ilmu dan amal yang tiada bermanfaat.
Oleh karena itu, maka ulama-ulama yang saleh lagi zuhud dan mengamalkan ilmunya, sangat besar perhatiannya khusus kepada ilmu, karena ilmu itu adalah pokok dari segala perkara ibadah dan pangkal dari

ta’at kepada Allah Rabbul ‘Alamin, demikian pula halnya pandangan dari orang-orang yang berpengetahuan dan pandangan ahli-ahli yang
C,
mendapat bimbingan dan taufik.
Jika kamu telah mengetahui kesemuanya ini (bahwa ta’at itu tidak akan berhasil dan tidak akan selamat jika tanpa ilmu) maka dalam ibadah, kamu mesti mendahulukan ilmu.
Adapun hal yang kedua, yang mewajibkan agar ilmu didahulukan ialah karena ilmu bermanfaat itu menimbulkan takut dan haibat kepada Allah S.W.T.
Firman Allah S.W.T. :
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari golongan hambaNya, ialah  yang berilmu”.
Dan tandanya ilmu menimbulkan takut kepada Allah ialah bahwa orang yang tidak mengenal Allah S.W.T. dengan sebenar-benar, ma’rifat, pasti ia tidak bisa takut sebenar-benarnya dan tidak pula bisa mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, demikian pula menghormat-Nya.
Maka dengan ilmu jua, barulah orang itu bisa ma’rifat kepada Allah serta meng-agungkan-Nya.
Jadi ilmu itu membuahkan taat dan dapat menghalangi maksiyat dengan taufiq Allah S.W.T. Dan tidak ada lagi yang harus dituju dalam ibadah kepada Allah, selain dari menurut perintah dan menjauhi larangan-Nya.
C,
Oleh karena itu wajib bagimu, wahai orang yang menuntut akhirat, untuk menghasilkan ilmu dahulu sebelum segala sesuatunya.
Semoga Allah memberikan petunjuk, karena Allah itu Pemberi taufiq dengan karunia dan rahmat-Nya.
Mungkin engkau akan berkata : oleh karena telah ada hadits Nabi S.A.W. mengatakan
I

Artinya :
“Menuntut ilmu itu fardu bagi tiap-tiap orang Islam”; dan ilmu-ilmu apa yang difardukan, dan sampai dimana batas yang harus dicapai dalam urusan ibadah ?.
Ketahuilah bahwa ilmu yang fardu bagi setiap makhluk itu ada 3
Pertama : Ilmu Tauhid, yakni ilmu ma’rifat kepada Allah.
Kedua : Ilmu Tasawuf, yakni ilmu yang ada hubungannya dengan urusandan pekerjaan hati, seperti ikhlas dan tawakkal dsbnya.
Ketiga: Ilmu Syara; halal dan haram yaitu rubu’ ibadah, Muamalat, Munakahat, Jinayat.
Berkata Ibnul Qojim dalam Kitab Y>
bahwa ilmu yang Fardu ‘ain yang tidak boleh tidak, harus diketahui oleh setiap Muslim itu ada beberapa macam
Pertama : Ilmu pokok Iman yang lima, ialah :
Iman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada Kitab-kitabNya, kepada Rasul-Nya dan kepada Hari Kemudian.
Orang yang tidak beriman kepada yang lima ini, ia tidak termasuk pada suku Iman dan tidak berhak mendapat nama “Mu’- min”.
Firman Allah S.W.T. :

“Kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah S.W.T. dan hari akhir, dan Malaikat, dan Kitab dan Nabi-nabi.
Dan firman-Nya pula :

“Dan siapa-siapa yang kufur kepada Allah dan Malaikat-Nya dan Kita-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan kepada Hari Akhir, maka ia telah sesat sejauh-jauhnya sesat”
Maka iman terhadap semua pokok-pokok ini, merupakan buah untuk mengenal dan mengetahuiNya.
Kedua Ilmu Hukum Islam yang harus diketahui, ialah apa-apa yang perlu bagi setiap orang seperti ilmu wudu, salat, puasa, haji, zakat dan masalah-masalahnya, syarat-syaratnya dan pembataIan-pembatalannya.
Ketiga Ilmu untuk mengetahuipengharaman dari yang lima; yang telah mengetahui seluruh Rasul dan Syari’at-syariat dan kitab Ketuhanan, ialah yang tersebut dalam Firman Allah :

“Katakan olehmu sesungguhnya Tuhanku telah mengharamkan segala yang keji-keji, baik yang lahir maupun yang batin, dan mengharamkan dosa dan hal-hal yang zolim yang tidak dengan hak, dan yang menyekutukan Allah, serta mengatakan apa-apa yang tidak ada dalam Kitab Suci dan Sunnah Rasul”.
Selain dari yang lima ini, juga diharamkan tapi tempo-tempo diperbolehkan, contohnya seperti :
bangkai, darah dan daging babi, hukumnya haram, tapi jika terpaksa seperti kalau tidak ada makanan tentu akan kelaparan sedangkan makanan yang dihalalkan tidak ada sama sekali; maka disitu diperbolehkan.
Jadi yang tersebut diharamkan itu tidak selamanya; tentu hal itu tidak termasuk kepada yang diharamkan dengan mutlak, seperti lima tadi, karena yang lima itu tidak boleh ada alasan apapun, seperti : terpaksa saya musyrik dsbnya.
Keempat Ilmu hukum-bergaul dan ilmu muamalat yang terjadi antara seorang dan orang lain.
Yang wajib dalam ilmu ini berbeda-beda yaitu menurut tingkah laku manusia dan kedudukannya; misalnya : antara pemimpin dengan rakyatnya, antara seorang dengan keluarganya dan dengan tetangganya, kewajibannya itu berlainan yakni : kewajiban pemimpin terhadap rakyatnya, tidak sama dengan kewajiban seseorang terhadap keluarganya; kewajiban seorang Kepala Negara atau Kepala Daerah itu lebih berat lagi, dan pahalanyapun lebih banyak lagi.
Sabda Rasulullah S.A.W. :
Adil menjadi pemimpin atau Bapak, adilnya dalam satu jam saja, pahalanya lebih dari 60 tahun ibadah, sebab tugasnya sangat berat.
juga, kewajiban pedagang, lain lagi dengan kewajiban seorang petani. Kalau kita hendak berdagang, kajilah ilmu dagang dalam segi hukum agama; misalnya seorang pedagang sarung menjual sarungnya; dalam hukum agama pedagang itu harus memberitahukan cacadnya jika ada, misalnya Sarung ini harganya sekian, lebih murah dari yang lainnya sekalipun jenis dan mutunya sama, karena ada cacadnya, dsbnya.
Ada orang yang mengira bahwa kalau demikian jujurnya, tentu dagangannya tidak akan laku. Sebetulnya tidaklah demikian, bahkan orang akan berduyun-duyun membeli barang dagangannya, karena jujumya itu. Modal yang terpenting dalam berdagang ialah kejujuran.
Seorang petani, juga mempunyai kewajibannya tersendiri; misalnya adil dalam membagi air dan lainnya, sebagaimana tersebut dalam peraturan Ziro’ah, Muzaro’ah, musaqoh dan lain-lain.
Itu semua kembali kepada 3 pokok.
Soal i’tikad, soal perbuatan dan soal menjauhi larangan; itulah yang harus diketahui ilmunya.
Dalam soal i’tikad yang wajib ialah harus sesuai dengan hak; dan tidak dibenarkan i’tikad dengan mengikut saja/taklid.
Yang wajib dalam soal perbuatan, ialah mengetahui ilmu tentang gerak-gerik yang wajib atas dirinya.
C’
Yang wajib dalam menjauhi larangan, ialah mengetahui ilmu tentang apa-apa yang tidak boleh dikerjakan menurut hukum Syara’.
Dan menurut keterangan dalam kitab
Bahwa pendapat Ulama mengenai ilmu yang fardu itu bermacam-macam. Yang paling mendekati maksud itu ialah ulama yang mengatakan bahwa Yang fardu itu ialah ilmu untuk mengetahui tentang perintah-perintah dan larangan-larangan.
Adapun batas yang wajib dari tiap-tiap ilmu yang tiga tadi, yang fardu ‘ain dari ilmu Tauhid, ialah sekedar kamu dapat mengetahui tentang pokok-pokok Agama Islam, yaitu mengenai ke-Tuhanan, kenabian dan mengenai mahsyar.
Yang mengenai ke-Tuhanan ialah engkau harus mengetahui bahwa engkau mempunyai Tuhan yang wajib disembah, lagi sangat Mengetahui akan segala sesuatu, dan Maha Kuasa, Berkehendak, Hidup, ber-Firman, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Esa; bersifat dengan segala sifat yang sempurna.
Maha Suci dari segala sifat kekurangan, dari, yang tidak ada dan dari apa-apa yang menunjukkan kebaharuan, seperti : asalnya tidak ada kemudian ada, hal ini walaupun sudah berjalan ribuan tahun, tetap dikatakan baru. Allah bersendiri dalam sifat qidam dan baqa karena yang selain dari Allah, ada permulaan dan ada akhirnya.
Dan kita harus mengetahui dan meng-itikadkan bahwa Sayyidina Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya yang selalu benar dalam
dalam ucapan dan keterangan-keterangannya mengenai akhirat, seperti mengenai nikmat kubur dan siksanya, dlsbnya.
Kemudian wajib mengetahui beberapa masalah yang di’itikadkan oleh s-Sunnah wal Jama’ah yang merupakan golongan terbesar pengikut yang masyhur, yang disebut Assawadul A’dzom.
Dalam. Ahli Sunnah ada golongan mengenai Ilmu Syari’ah: ada Hanafi, ada Maliki ada Syafe’i dan ada Hambali dan tidak saling celamencela antara yang satu dengan yang lain, sebab diinsyafi bahwa soal ijtihad dasarnya dugaan yang kuat. Dan kalau sudah dibuka pintu ijtihad oleh Allah S.W.T. atas lisan Nabi Muhammad S.A.W., maka tidak bisa dielakan lagi sewaktu-waktu tentu akan ada perbedaan pendapat para mujtahidin.dan perbedaan-perbedaan tersebut tidak akan membahayakan agama kita. Dalam hal ini, untuk menghilangkan kekhawatiran, Rasulullah telah menjelaskan bahwa : siapa-siapa yang ijtihadnya salah, akan diganjar satu, apalagi yang tepat; maka ia akan diberi dua ganjaran.
Dan waktu beliau masih ada, para sahabat juga dianjurkan untuk berijtihad.Seperti halnya Syech Muadz bin Jabal, telah disuruh oleh Rasulullah untuk berijtihad : “Kau menjadi gubernur di negeri Yaman dan jauh daripadaku, oleh karena itu berijtihadlah apabila tidak mendapat nash dari Kitab dan Sunah”.
Dan karena diperbolehkan berijtihad, maka lahirlah mazhab-mazhab; sebab artinya hasil dari ijtihad orang-orang yang ahli.
Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa pada zaman Rasulullahpun sudah ada mazhab-mazhab itu.
Ada mazhab Muadz bin Jabal, ada. mazhab Abdullah bin Umar, ada mazhab Abu Lullah bin Abbas, ada. mazhab Abdullah ibn Amr bin Ash, ada mazhab fulan, fulan sahabat Rasul yang besar-besar.
Berlainan faham, tetapi tidak saling cela-mencela; dengan demikian keadaan Ummat Islam pada zaman itu sangatlah kompak dan harmonis. Soal mazhab dan soal ikhtilaf sudah selesai dari sejak abad pertama Chairulqurun.
Hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah, supaya ummat Islam diakhir jaman jangan lagi cekcok dalam soal. ini.
Wasiat, saya : “Janganlah kita mencela orang yang berlainan mazhab dengan kita”.
Sebagaimana keadaan para sahabat dan para tabi’in

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2013 in Religi, sufi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: