RSS

Terjemah Minhajul Abidin bagian 3

12 Nov

sifat-sifat yang tercela yang nanti akan diterangkan dalam kitab ini, agar engkau bisa menjauhi sifat-sifat yang demikian.

Apabila tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan, maka tidak mungkin seseorang bisa melakukan taat yang belum dikenalnya.

Apakah taat itu, dan bagaimana cara mengerjakannya ?. Dan bagaimana engkau bisa menjauhi maksiyat yang engkau sendiri tidak mengetahui jenisnya ?bila seseorang tidak tabu bahwa berdusta itu haram, masa bisa ia meninggalkannuya!

Kira harus belajar apa yang wajib dan apa yang haram, supaya kita jangan jatuh kedalam kedurhakaan.

Jadi kita harus belajar, harus mengaji mengenai ibadah syar’i, seperti bersuci, mandi dan berwudu, salat, puasa dsb.nya karena inilah tugas- tugas keagamaan yang fardhu ‘ain hukumnya.

Tiap-tiap Muslim wajib mengkaji ilmu Fiqih, hukum-hukumnya dan syarat-syaratnya, agar dapat melakukannya dengan sebenar-benarnya.

Terkadang engkau terus-menerus melakukan sesuatu yang kau kira baik, bertahun-tahun lamanya, padahal sebenarnya merusak, dan engkau terus melakukan hal-hal yang merusak kesucianmu, salatmu, dstnya. (Sebab pernah ada orang dimesjid disuatu tempat ia tidak mengetahui bagaimana caranya sujud, bagaimana caranya menaruh tangan.

Sudah baik hatinya mau solat, tetapi belum belajarbagaimana caranya solat, solatnya itu tidak cocok dengan yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W.).

Sedang engkau sendiri tidak merasa salah, karena itu fardhu ‘ain harus dikaji, kemudian dilengkapi dengan sunat-sunat: sunat ‘ain yang biasa dikerjakan oleh tiap-tiap orang.

Terkadang ada sesuatu yang sulit (misalnya : dalam bepergian dengan kereta api, ini sulit, bagaimana salatnya ?, sedang engkau sendiri belum pernah mengaji dan pada waktu itu tidak seorang ulamapun untuk tempat bertanya. Oleh sebab itu kita harus mengaji, bagaimana salatnya. Kalau sedang berada didalam kapal, atau kita mau naik haji misalnya. Kalau dikapal haji, tentunya banyak ulama-ulama yang bisa kita tanya, tapi bagaimana kalau sedang berada didalam kereta api, sedangkan tidak ada ulama yang bisa kita tanya

Oleh sebab itu sekali lagi ditekankan, bahwa mengaji itu sangat penting. Demikian pula mengenai ibadah batin, inipun harus kita kaji. Sebagaimana ada ibadah lahir, juga ada ibadah batin, bidangnya ialah ilmu tasauf.

lbadah-ibadah seperti : salat, puasa, naik haji, mengeluarkan zakat; ini semua termasuk ibadah lahir.

Sedangkan ibadah batin diantaranya, kita tidak boleh takabbur.

Lawan takabbur ialah tawadu; dzikrul minnah lawannya udzub; kisorul­amal lawannya tulil-amal, semuanya ibadah batin. Hati kitaharus diisi dengan sifat-sifat yang baik.

Kalau kita tidak mengaji/tidak tahu, kadang-kadang kita melakukan iba­dah lahir saja, sedangkan hati kita tidak melakukan ibadah batin. Kedua-duanya harus dilakukan, agar tidak pincang. Ibadah batin itu ialah amal-amal yang dilakukan oleh hati.

Engkau harus mengetahui dan mengajinya.

(Saya rasa cukup dengan sekedar mengaji kitab Minhadjul-Abidin ini, dan untuk ibadah lahir saya rasa cukup kalau mengaji kitab Bidayatul­hidayah atau Fathul-Qorib).

Ibadah batin itu diantaranya ialah tawakkul (dalam bahasa kita tawakal dan dalam bahasa Arab tawakkul).

Tawakkul itu ialah percaya kepada Allah S.W.T. Dalam segala urusan yang kita khawatirkan, kita serahkan kepada Allah S.W.T.

Manusia itu tidak luput dari kekhawatiran, misalnya : kita berusaha mencari rizki yang halal tapi kita khawatir rugi dalam dagang kita atau sawah kita kena hama yang tidak diduga-duga. Nah kekuatiran itu, kita serahkan kepada Allah S.W.T.

(Nanti dengan panjang lebar akan diterangkan oleh Imam Ghazaly, dalam kitabnya Minhajul-Abidin dllnya yang akan saya kutip sekedarnya, Insya Allah).

Kita jangan menentang, kita harus rido menerima apa yang ditakdirkan oleh Allah S.W.T.

Bagaimana caranya ? nanti akan diterangkan.

Sabar, tahan uji, tahan derita, tahan payah dalam mengerjakan taat kepada Allah adalah sifat orang yang kuat batinnya, sebab arti sabar itu adalah tahan uji batin.

Taubat, bagaimana caranya taubat itu ? nanti Insya Allah akan diterangkan dalam kitab Minhadjul-Abidin dan diambil juga dari kitab-kitab lainnya yang sebagian besar karangan Imam Ghazali juga.

Ikhlas, meskipun ikhlas itu sudah masuk kedalam bahasa kita, tapi perlu juga diterangkan arti ikhlas yang sebenar-benarnya : yaitu meninggal­kan riya dalam amal, dllnya. Nanti semua akan diterangkan.

Engkau harus tahu apa yang dilarang mengenai pekerjaan hati, hati kita suka melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah S.W.T.

Kita harus tahu larangan-larangan batin itu, sebab kalau kita tidak men­jauhi larangan-larangan batin dan tidak melakukan kewajiban-kewajiban batin, apa artinya beragama Islam ?.

Jadi hati nantinya kosong; kalau hati jahat atau busuk, berarti kosong, sebab agama Islam bertugas membersihkan hati.

Kalau hati kita tidak bersih dan tidak saleh, apa artinya beragama Islam? Hanya diSunat dan membaca syahadat waktu menikah.

Salat juga dicampuri dengan riya dan udzub, apa artinya itu ?.

Tidak ada artinya sama sekali. Islam itu harus melakukan amal-amal batin dan menjauhi larangan-larangan batin.

Contoh larangan batin, seperti telah disebutkan tadi, ialah tidak rela ter­hadap takdir Allah S.W.T.

Saya, pernah membaca suatu cerita dalam bahasa Inggeris, ada orang yang kematian isteri dan anak-anaknya, akhirnya ia memaki-maki Tuhan. (orang itu keterlaluan, tidak rela menerima takdir Allah S.W.T. Perbuatan­iya itu merupakan dosa besar.

Amal artinya lupa bahwa kita akan mati, rasanya akan hidup terus. Itu amal dan bukan ‘amal.

Kalau ‘amal dengan ‘ain artinya perbuatan.

Kalau amal dengan hamzah artinya rasa tidak akan mati, itu dosa besar. Sebab kalau kita merasa tidak akan mati, semua ta’at itu akan diundur-undurkan saja.

Dan riya itu perbuatan pura-pura, hanya ingin dipuji oleh manusia dan tidak karena Allah S.W.T.

Dan kibir itu ialah merasa diri besar (sombong). Sebetulnya manusia itu tidak ada yang besar, kenapa ? Dan manusia tidak akan tahu bahwa dirinya besar, sebab ia tahu bahwa dirinya besar dan baik, nanti kalau umurnya sudah berakhir, matinya husnul-khotimah.

Kalau matinya husnul-chotimah, dia besar dan bahagia.

Kalau matinya suul-chotimah, meskipun orang itu, merasa dirinya besar didunia, namun sebetulnya ia hanya kerdil belaka.

Supaya engkau menjauhi semuanya itu.

Dalam Al-Qur’an dengan jelas nash dan ayat-ayat yang mewajibkan kita beribadah batin dan melarang maksiyat batin.

Ayat-ayat yang mengenai hukum lahir hanya ada beberapa ratus ayat, tapi yang mengenai ibadah batin itu hampir dari awal sampai akhir, juga dite­rangkan mengenai maksiyat-maksiyat batin. (Yang menentukan hukum lahir itu hanya :± 500 ayat).

Allah jelas menyuruh ibadah batin, menyuruh sabar; menyuruh tawak­kul, menyuruh rido bil qodo, menyuruh dzikrul-minnah, dllnya. (Kalau ibadah batin semacam itu dianjurkan oleh Al-Qur’an dan oleh Al-Hadits, apa artinya ke-Islaman kita, kalau kita masih bergunjing, masih membohong, masih suka durhaka terhadap ibu dan bapak, masih suka su’udzon terhadap Muslimin, apa artinya kita menjadi Muslim kalau begitu

Apa bedanya dengan orang yang jahat yang bukan Muslim ?. Misalnya dengan Abu jahal, apa bedanya ? Dia tahu bahwa Tuhan itu ada, tapi hatinya busuk. Iblis tahu bahwa Allah itu Maha Esa, tapi hatinya busuk. Jadi sangat penting sekali ibadah hati itu).

Dan Allah dengan jelas melarang lawan-lawan ibadah batin itu, yakni: maksiyat batin.

Begitu pula didalam Hadits, bahkan hadits yang mengenai ini, kebanyakan hadits mutawatir.

Firman Allah :

 

Kepada Allah jua kamu harts tawakkul, kalau betul-betul kamu itu beriman kepada Allah S.W.T.”.

(Tawakkul itu menunjukkan penuhnya iman. Jadi sama wajibnya dengan salat, puasa, naik haji dan zakat).

Allah S.W.T. berfirman :

 

“Kamu haus bersyukur kepada Allah, kalau memang engkau beriba­dah kepada Allah”.

(Jadi kalau kita tidak bersyukur, berarti kita tidak beribadah kepada Allah. S.W.T.)

Apakah syukur itu ?, hal ini akan diterangkan nanti. Untuk keterangan sepintas lalu saja, bersyukur itu ialah menggunakan nikmat dari Allah S.W.T. untuk ta’at kepada-Nya.

Diibaratkan sbb :.

Ayah kita memberi uang, kalau uang itu dipakai yang baik-baik yang disukai oleh ayah kita artinya kita bersyukur kepada ayah kita. Tetapi kalau uang itu dipakai untuk hat-hal yang tidak disukai oleh ayah kita itu berarti kita tidak bersyukur terhadap ayah kita.

Allah memberi kita akal untuk berfikir, lalu akal itu kita pergunakan untuk berfikir yang bukan-bukan, sampai akhirnya ingkar terhadap Allah S.W.T.. itu artinya kufur.

Seperti raja yang menghadiahkan pedang kepada prajuritnya yang berjasa, tapi setelah itu ia jadi berobah. Setelah diterimanya pedang itu dipakainya untuk menusuk dada raja, supaya raja itu tidak ada.

Ini juga sama halnya, Allah memberikan nikmat akal, kalau akal itu dipakai sampai mengatakan bahwa Allah S.W.T. tidak ada, ini bertarti bertentangan  sekali dengan syukur ).

Dan ‘Firman Allah S.W.T. :

 

“Sabarlah engkau, Haman sabarmu tidak mungkin  melainkcin dengan Allah”.

(Ini suatu tanda bahwa Allah menyuruh sabar, harus sabar, dan sabar itu artinya dengan Allah S.W.T)

 

“Hendaklah engkau ikhlas benar-benar kepada Allah”, Ini jelas menunjukkan bahwa ikhlas itu wajib.

Dalam Hadits Rasulullah S.A.W. bersabda

 

 

“Barangsiapa yang ikhlas benar-benar kepada Allah niscaya akan ditunggung segala urusannya dan diberi rizki dari jalan yang tidak disangka-­sangka”.

Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang seperti itu, seperti difirmankan Allah dalam memerintahkan salat dan puasa. Mengapa engkau hanya mau menerima perintah salat dan puasa, tetapi meninggalkan perintah­-perintah fardu seperti tersebut itu (Tawakkul sabar, dsb.) padahal yang memerintahkan satu jua ialah Allah; dan kitabNya, kitab itu jua yakni AI-Qur’an. Malah engkau telah melupakan yang fardu-fardu tersebut, sehingga engkau tidak mengetahui apa-apa dari yang fardu-fardu itu karena pengaruh anjuran dari orang-orang yang telah terpikat oleh dunia, yang terbalik pandangannya, sehingga : yang baik dipandang buruk, dan yang munkar dianggap balk.

Dan anjuran dari orang-orang yang telah meremehkan dan meninggal­kan ilmu yang manfaatnya dinamakan Allah dalam Al-Qur’an dengan nama Nur, dan Hikmah dan Huda, dan mengejar ilmu yang hanya menim­bulkan haram seperti ilmu berbantah-bantahan sebagai alat untuk mengejar kesenangan, duniawi, yang akhirnya pasti hancur.

Wahai orang-orang yang ingin petunjuk dan kebenaran, apakah tidak takut kamu akan termasuk golongan orang yang merusak sesuatu dari kewajiban-kewajiban tsb. hanya mementingkan salat, sunat dan puasa sunat tetapi tidak menghiraukan kewajiban-kewajiban tawakkul dsb. Jika derni­kian, pekerjaanmu tidak ada apa-apanya, bahkan terkadang kamu akan

hanyut tenggelam dalam maksiyat dari beberapa macam maksyiat seperti riya, takabbur dsbnya, yang kesemuanya menjadi sebab kamu masuk neraka.

Dan tidakkah kamu takut akan sia-sia amalmu walaupun berhati-hati sckali, karena apa-apa yang mubah engkau tinggalkan, dengan maksud untuk mendekatkan keridoan Allah, tapi hasilnya tidak tercapai, disebabkan engkau meninggalkan kewajiban tsb. (Tawakkul dsbnya).

Dan lebih parah lagi dari keburukan meninggalkan kewajiban-­kewajiban dan mubah seperti yang tersebut itu, ialah jika engkau masuk perangkap angan-angan/lamunan, yang mendorongmu berkeinginan untuk hidup kekal, berkumpul dan berfoya-foya dengan duniawi, angan-angan itu intinya maksiyat. Karena kamu tidak mengetahui perbedaan antara Niat baik” dan “angan-angan”, sehingga kamu menyangka bahwa angan-­angan itu ialah niat baik, karena keadaannya ada yang hampir bersarnaan.-

Dernikian pula kepanikan dan kegelisahan, disangka rendah hati dan ikhlas berdoa kepada Allah.

Riya dan sum’ah dipandang puji atau disangka sebagai ajakan kebaikan kepada manusia, selanjutnya maksiyat akan dianggap ta’at, dan menyangka bahwa ia banyak mendapat pahala, padahal bahagiannya hanya siksa.

jika demikian, maka kamu berada dalam kekefiran yang besar. dan kekosongan fikiran (goflah) yang buruk.

Setengah ulama mengatakan bahwa goflah itu timbul karena kurang ber­hati-hati dan kurang kesadaran.

Maka gurur dan Goflah adalah satu mushibah yang keji bagi yang beramal  tanpa ilmu.

Golongan-golongan yang tertipu oleh dirinya terbagi 4 bagian; masing-­masing bagian bercabang-cabang menjadi beberapa kelompok pula. Imam Gazali dalamkitab Ihya – telah mengupas tentang hal ini dengan panjang lebar, dan disini akan diterangkan sedikit saja dengan ringkas.

Bagian pertama, ialah Ahli Ilmu.

Yang kena tertipu dari mereka ada beberapa macam, diantaranya : ialah yang hanya mementingkan ilmu-lahir dan akal sampai mendalam sekali, tapi melupakan Ilmu-Batin dan tidak memperhatikan dan meliharaan Batin. Mereka merasa bangga dengan ilmu-lahir dan ilmu-akal itu karena menyangka bahwa mereka sudah mendapatkan kedudukan dan pangkat disisi Allah, dan menyangka pula bahwa mereka sudah sampai kepada ilmu yang dapat membebaskan mereka dari siksa Allah, bahkan mereka, menyangka akan dapat memberi syafaat, dan tidak akan dituntut dosanya.

Yang demikian itu tertipu oleh dirinya sendiri karena Jika mereka insyaf tentu akan menyadari bahwa ilmu itu ada 2 macam

Pertarna : Iltnu Mu’amalah, kedua Ilmu Ma’rifah.

Ilmu Mu’amalah seperti, mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mengetahui mana akhlak yang baik dan mana yang buruk dan mengetahui pula cara-cara mengobati atau menjauhinya.

Mengetahui kesemuanya itu tidak akan ada harganya jika tidak disertai maksud untuk dilaksanakan/diamalkan.

Apa faedahnya bagi orang yang mengetahui benar-benar akan ilmu. bagaimana caranya beribadah, tetapi ia tidak mengerjakannya, tahu akan ilmu serta cara menjauhi ma’siyat, tetapi tidak menjauhinya, pandai tentang ilmu ahlaq tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi kelakuanya bertolak belakang.

Firman Allah :

 

Sungguh beruntunglah orang-orang yang dapat mensucikan dirinya dart sifat-sifat yang tercela”.

Dan tidal: mcnifirmankan :

 

Yang artinya

Beuntunglah orang-orang yang belajar cara-caranya membersihkan jiwa“.

Dalam hal ini syetan membujuk supaya orang jangan terbujuk oleh ayat ini dan berkata: Jangan engkau keliru, bahwa maksudmu itu ingin dekat kepada Tuhan dan ingin dapat ganjaran, maka dengan ilmu, semua itu akan tercapai. Ingatlah sabda Nabi dalam beberapa hadits yang menerang­kan dengan tegas bahwa keagungan seseorang yang berilmu itu sangat besar.C,

Jika keadaan orang itu lemah, kurang fikiran, gampang terbujuk, maka ia akan membenarkan apa saja yang dikemukakan oleh syetan dan tenteramlah hatinya dengan hanya mempunyai ilmu saja sehingga ia melupakan amal. Demikianlah g u r u r itu.

Tapi orang yang cerdik dan waspada, ia akan menjawab bujukan syetan itu, ia akan berkata sbb. : Wahai syetan, engkau hanya mengemukakan hadits-hadits yang menerangkan keagungan berilmu saja dan tidak mengingatkan kepadaku hadits yang menerangkan keburukan-keburukan orang yang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya, yang telah disamakan derajatnya dengan anjing dan himar dan engkau tidak mengingatkan kepadaku hadits yang berbunyi :

 

Artinya :

“Siapa-siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah amalnya, akan bertambah jauh dia dari Allah”.

Dan banyak lagi hadits-hadits yang seperti ini.

Mereka yang gurur itu hanya memperelok lahirnya saja tetapi melupa­kan batin  sedangkan sabda Nabi S.A.W. :

 

Artinya :

“Bahwasannya Allah tidak memandang akan rupa dan hartamu, tapi memandang akan hati dan amalmu”.

Mereka hanya menyiapkan amal lahir dan tidak memelihara hati, padahal hati itu adalah  yang pokok dan seseorang tidak akan selamat, kecuali menghadap kepada Allah dengan hati yang mulus.

Bagian kedua yang tertipu oleh dirinya adalah golongan ahli ibadah dan ahli beramal. Inipun banyak sekali ragamnya, diantaranya adalah golongan yang hanya mementingkan fadilah dan sunnah saja, tetapi mere­mehkan fardu, kadang-kadang mereka tenggelam sampai dalam sekali, mereka mengejar fadilah dan sunnah itu, sampai timbul pertentangan yang berlarut-larut, seperti ada orang yang waswas dalam berwudu. Mereka sangat keterlaluan dan berhati-hati sekali dalam memakai air, ingin yang sempurna sekali/fadilah, sehingga tidak tenteram hatinya dalam memper­gunakan air yang telah ditetapkan sucinya olch fatwa Syara’, dan menntakdir­kan ihtimal-ihtimal dalam bentuk najis, yang jauh ditakdirkan dekat. sehingga akhirnya ia bersusah payah mencari air dan terkadang luput mengerjakan yang fard

Ada lagi golongan yang waswas dalam salat. Syetan tidak mcin­biarkan dia untuk mendapatkan niat yang syah, malah terus mengacaukan­nya sampai ia tidak dapat berjamaah atau sampai keluar/habis waktu salat. Dan bila dapat melaksanakan niat, masih juga ia ragu-ragu dalam ‘hatinya, apakah niatnya itu sah atau tidak.

Ada lagi yang waswas dalam mengucapkan takbir sampai kadang­kadang merobah bunyinya, dan kewas-wasannya itu terus merembet kese­luruh pekerjaan salat, mulai dari takbir dan seterusnya, ia selalu ragu-ragu dalam hatinya. Mereka mengira, bahwa dengan bersusah payah dalamn niat dan sebagainya, ia sudah mendapatkan kelebihan dari orang lain. dan menyangka bahwa pekerjaannya itu dinilai baik oleh Allah, padahal yang demikian itu hanyalah gurur semata-mata.

Ada lagi sebagian, yang waswas dalam membacakan huruf-huruf Fatihah dan bacaan-bacaan lainnya, hatinya selalu tertuju pada pengamatan dan mengintai tasydid, perhatiannya khusus tertuju pada perbedaan bunyi ..

Bersambung..insya Allah

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2012 in Religi, sufi

 

Tag:

2 responses to “Terjemah Minhajul Abidin bagian 3

  1. akhdiyat

    Juni 17, 2013 at 11:05 pm

    ditunggu sambungannya ya…

    saya pembaca setia blog anda.

     
  2. SUNYOTO

    April 27, 2014 at 1:35 am

    Alhamdulillah….wa syukurillah…setelah membaca tulisan ini, hati ini semakin semangat untuk terus belajar…mengenai fiqih yang berkaitan dengan taharah, shalat, puasa, zakat, dll.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: