RSS

Terjemah Minhajul Abidin bagian 2

08 Nov

Sebab api yang menyala-nyala itu, yang disebut dalam Al-Qur’an, hanya akan memakan orang-orang yang dihijab itu.

Adapun, orang mukmin yang sehat hatinya, jadi tidak tertambat oleh hubbud-dunya, dan menghadap kepada Allah S.W.T. yaitu yang disebut dalam firman Allah S.W.T. :

 

“Pada hari itu, hari manusia meninggalkan dunia, tidak ada gunanya uang dan anak-anak. Yane selamat hanyalah orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat”, artinya sehat tidak ada penyakit hubbud­dunya. “.

Kepada orang itu, maka api neraka berkata “Boleh engkau liwat wahai orang mukmin, sebab nur yang ada dihati­mu itu sudah memadamkan nyala apiku”.

Ini diriwayatkan dalam hadits Ya’la bin Munabbih.

Kalau kebetulan dicabut nyawanya dalam keadaan tertarik oleh hubbud-dunya, dikuasai oleh hubbud-dunya (hubbud dunya itu cinta dunia yang  tidak ada. hubungannya dengan akhirat), ini sangat berbahaya sekali.

Sebab, manusia itu matinya bagaimana hidupnya, begitu hidupnya begitu pula matinya, juga begitu matinya begitu pula bangkitnya dari kubur, jadi keadaannya berantai.

Apabila engkau bertanya : “Apa yang menyebabkan suul chotimah itu ?”.

Maka jawabnya

Ketahuilah bahwa sebab-sebabnya banyak, tidak bisa diperinci satu persatu, tetapi bisa ditunjukkan pokok-pokoknya saja.

Adakalanya karena mati dalam keragu-raguan dan dalam keadaan terhijab.

Sebab-sebabnya bisa disingkatkan menjadi 2 sebab.

Pertama :

Seseorang bisa jadi suul-chotimah, padahal dia itu seorang yang waro’, zuhud dan saleh.

Mengapa sampai demikian ? ? ?

Karena didalam iktikadnya ada bid’ah, bertentangan dengan iktikad yang ditekadkan oleh Rasulullah S.A.W., sahabat dan tabi’in.

la memang rajin salatnya, rajin membaca Al-Qur’an, sampai kata Rasulullah (tentang khawarij itu) : “Membaca AI-Qur’an lebih rajin dari kamu (para sahabat) dan salatnya lebih rajin daripada kamu; sampai masing‑

19

masing jidatnya ada hitamnya, tetapi mereka membaca Al-Qur’an tidak sampai kelubuk hatinya dan salatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T.”.

Oleh karena itu iktikad bid’ah didalam hati adalah sangat berbahaya, seperti mengiktikadkan apa-apa yang nantinya dapat menyesatkan dia kepada kepercayaan bahwa Allah seperti makhluk.

mlisalnya : betul-betul duduk didalam Aras.j, padahal Allah itu laisa, kamislihi syai’un.

Kelak apabila pintu hijab itu telah terbuka, maka dapatlah diketahui bahwa Allah itu tidaklah sebagaimana yang kulukiskan dalam hati, akhir­nya nanti akan ingkar kepada Allah.

Nah dikala itu ia akan mati dalam suul-chotimah. Kelak kalau orang sudah sakaratulmaut dan terbuka hijab, baru menyadari bahwa urusan ini demikianlah sebenarnya.

Kalau tidak sama dengan apa yang ditekadkan dihatinya, dia akan bingung.

Nah, dalam keadaan begitu dia matinya dalam soul-chotiniah, meskipun amal-amalannya baik, naudzubillah.

Maka yang paling penting itu adalah iktikad.

Tiap-tiap orang yang salah iktikad karena pemikirannya sendiri atau karena ikut-ikutan pada orang lain, ia jatuh dalam bahaya ini.

Kesolihan dan kezuhudan serta tingkah laku yang baik, juga tidak mampu untuk menolak bahaya ini. Bahkan tidak ada yang akan menyelamatkan dirinya melainkan iktikad yang benar.

Karena itu perhatian leluhur kita kepada yang baik-baik karena didasari i’tikad baik.

Orang yang pikirannya sederhana adalah lebih selamat. sederhana, tidak berfikir secara mendalam, meskipun bisa dikatakan orang kurang ilmunya, tapi ia lebih selamat daripada orang yang berlagak mempunyai ilmu, tapi dasar iktikadnya tidak benar.

Orang yang sederhana itu, ialah orang yang beriman kepada Allah. kepada Rasul-Nya, kepada Akhirat, dan ini hanya garis besarnya saja. Nah inilah yang selamat.

Kalau kita tidak mempunyai waktu untuk memperdalam pengetahuan ilmu Tauhid, maka usahakan dan perjuangkan agar dalam garis besarnya kita tetap yakin dan percaya; seperti itu sudah selamat.

Cukup kalau didalam hatinya ia berkata :

“Ya saya beriman kepada Allah S.W.T., hakekatnya berserah diri kepada Allah, dan iman kepada akhirat dsb.nya, dalam garis besarnya saja.

Terus dia beribadah dan mencari rizki yang halal dan mencari pengetahuan yang berguna bagi masyarakat, sebetulnya itu lebih selamat bagi orang yang tidak sempat belajar secara mendalam.

Tapi iman yang hanya secara garis besarnya saja harus kuat; seperti petani-petani yang jauh dari kota dan orang-orang awam yang tidak berkecimpung dalam perdebatan yang tidak menentu.

Rasulullah suka memperingatakan, pada suatu waktu ada orang-­orang yang sedang berdebat tentang takdir sampai berlangsung lama, melihat ini Rasulullah sampai merah padam wajahnya, lalu berpidato :

“Sesatnya orang-orang yang dulu itu, karena suka berdebat, antara lain tentang qodo dan qodar”.

Dan beliau bersabda :

 

“Orang-orang yang asalnya benar, tapi kemudian sesat, itu dimulai karena suka berbantah-bantahan”.

Berbantah-bantahan itu kadang-kadang memperebutkan hal-hal yang tidak ada gunanya.

Sabda Rasulullah

 

“Sebagian besar dari penghuni surga itu adalah orang-orang yang pikirannya sederhana saja”.

Tidak waswas, cukup dengan garis besarnya saja dalam hal iktikad.

Ini diriwajatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sju’abil iman. Karena itu, maka leluhur kita suka melarang orang ngobrol; jangan suka ngutik-ngutik soal orang lain urus saja, kaji saja, soal bagaimana supaya ibadah sah, supaya kamu bisa mencari rizki yang halal.

Boleh saja kamu menjadi tukang sepatu, jadi petani, atau jadi dokter, pokoknya jangan ngutik-ngutik sesuatu, kalau bukan ahlinya.

Leluhur kita suka memberi nasihat demikian. Karena kasihan, gunanya belum tentu, tapi bahayanya sudah nampak.

Garis besarnya adalah sbb. :

Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an saya percaya dan kalau ada ayat­-ayat Al-Qur’an yang saya tidak mengerti, saya serahkan kepada Allah S.W.T. dan apa yang dalam hadits saya percaya.

Bagi orang-orang awam yang bukan ahli, garis besarnya, cukup demikian, pokoknya kita jangan menyekutukan Tuhan dengan apa pun pegang saja laisa kamislihi syai’un.

Apa yang terlintas dihati, sebetulnya hanya buatan hati saja, tempo-tempo timbul was-was yang dilakukan oleh syaitan, maka tolaklah itu. Bagaimana Allah itu ? ? ? Wallhu a’lam.

karena leluhur kita suka melarang, jangan main tawil-tawilan diselingi dengan ayat AI-Qur’an, katanya agar dimengerti oleh pikiran yang sehat, akhirnya ketika dicocokkan dengan undang-undang alam, padahal teori itu berobah. Dulu ‘ada orang yang suka mencocokkan ayat-ayat AI-Qur’an dengan teori-teori ilmu fisika dsb.nya, akhirnya teori-teorinya itu berobah. Orang yang, berbuat seperti itu sudah mati dan tafsirannya hanya menjadi sampah belaka.

Sebab sudah ternyata toorinya itu bisa berobah, sedangkan dia sudah mendasarkan tafsirnya pada Al-Qur’an bagi teori-teori itu, lalu dibawanya mati, ini berbahaya sekali.

Karena itu, kita jangan mencoba-coba berani menafsirkan AI-Qur’an hanya was dasar pikiran raba-raba saja. Sebab ilmu pengetahuan, baik yang lama maupun yang modern, dasarnya hanya pengalaman dlan percobaan, hanya merupakan perhitungan saja.

Pada hakekatnya, mereka belum mengetahui, apa hakekatnya elektrisitet, demikian pula mereka belum mengetahui hakekatnya apa yang dinamakan e a t h e r.

Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita berani mendasarkan itikad yang, hanya didasarkan pada hasil perhitungan saja.

Sebaiknya kita mengetahuinya secara global saja, sebab hal itu ada yang melarang, agar pintunya jangan dibuka sama sekali.

Karena ada orang yang mendapat ilham dari Allah dengan dibersihkan hatinya dan inkisyaf (terbukanya hijab), sebelum mati sudah inkisyaf, nanti setiap orang iuga inkisyaf, meskipun bukan wali. Namun walipun tempo-tempo selagi hidup sudah inkisyaf.

Para Wali tahu akan adab kesopanan, mereka diam, karena tidak ada bahasa yang cukup untuk menerangkannya, seandainya hal ini dibahas, maka akan banyak sekali bahaya-bahayanya.

Tanjakan-tanjakannya sulit, akal lahir tidak mampu kalau dipakai untuk menyusun/mengoreksi sifat dan zat Allah S.W.T.

Dan didekatinya oleh arifin itu dengan rasa saja, tidak dengan akal lahir tapi dengan rasa bathin. Dan rasa bathin itu belum ada bahasanya, hanya tempo-tempo beliau-beliau itu mengadakan istilah untuk dipakai diantara beliau-beliau saja. Ini sebab yang pertama.

Sebab yang kedua bagi suul-khotimah itu, karena imannya saja yang lemah dan lemah iman itu banyak sebab-sebabnya, sebagian besar dari campur gaul. Kalau orang bercampur gaul dengan orang-­orang yang lemah imannya, apalagi bergaul dengan orang yang suka -nengejek, maka akan makin lemah saja imannya. Dan juga dari bacaan-bacaan, kalau orang sudah gandrung membaca apa-apa yang bisa melemahkan iman, akhirnya orang itu jadi atheis, dan benar-benar kufur.

Kedua, sebab dari lemah iman itu ditambah oleh suatu istilah hatinya dikuasai oleh hubbud-dunya.

Sudah imannya lemah, dikuasai pula oleh hubbud-dunya. Mementingkan diri sendiri dalam soal-soal keduniawian itu artinya hubbud-dunya. Kalau iman sudah lemah, cinta kepada Allah juga jadi lemah, dan kuat cintanya kepada dunia yang berarti mementingkan diri sendiri dalam soal-soal keduniawian.

Akhirnya kalau sudah dikuasai betul-betul oleh hubbud dunya, tidak ada tempat untuk cinta. kepada Allah S.W.T.

Hanya itu saja yang terlintas dihati; oh, cinta kepada Allah, Allah Pencipta diriku.

Tapi pengakuan ini hanya merupakan hiasan bibir batin saja. Hal inilah yang menyebabkan dia terus menerus melampiaskan syahwatnya, sehingga hatinya menghitam dan membatu, bertumpuk-tumpuk kegelapan dosa itu dihatinya.

Imannya semakin lama, semakin padam; akhirnya hilang sama sekali dan jadilah ia kufur, hal ini sudah menjadi tabiat.

Firman Allah S.W.T. :

 

“Hati mereka itu sudah dicap, jadi mereka tidak bisa mengerti”.

Dosa mereka merupakan kotoran yang tidak bisa dibersihkan dari hatinya.

Kalau sudah datang sakarat, maka cinta mereka kepada dunia yang berarti mementingkan diri sendiri semakin kuat, sehingga cinta mereka kepada Allah semakin lemah, sebab mereka merasa berat dan sedih meninggalkan dunianya, karena keduniawian sudah menguasai diri mereka.

Setiap orang yang meninggalkan kecintaannya tentu akan merasa sedih. Lalu timbul dalam fikirannya :

“Kenapa Allah mencabut nyawaku

Kemudian berobah hati murninya, sehingga dia membenci takdir Allah. Kenapa Allah mematikan aku dan tidak memanjangkan umurku ?

Kalau matinya dalam keadaan demikian, maka ia mati dalam keadaan suul­chotimah, naudzubillah.

Demikianlah keterangan singkat dari Imam Gazaly dalam kitabnya lhya. Kemudian engkau wajib mengetahui, apa yang harus engkau kerjakan,yaitu : salat, puasa dll. menurut sebagaimana mestinya yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. supaya engkau bisa memenuhi sepenuh mungkin, dan engkau juga harus mengetahui apa yang perlu dan wajib ditinggalkan, yaitu larangan-larangan dari Allah S.W.T. seperti : riya, udzub, dsb.nya; yaitu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2012 in Religi, sufi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: