RSS

Al Hikam Bagian15

08 Apr

141.Terkadang orang yang ahli ma’rifat itu merasa malu untuk mengutarakan hajatnya kepada Tuhannya  (mengajukan permohonan) karena dia sudah merasa berkecukupan dengan kehendak-Nya. Maka bagaimanakah dia tidak merasa malu mengutarakan hajatnya kepada mahluk-Nya?

142.Apabila berbaur dua perkara kepadamu, maka lihatlah yang lebih berat pada nafsu dari keduanya. Kemudian ikutilah dia (yang lebih berat itu) karena sesungguhnya titik berat pula nafsu kecuali apa yang benar.

143.Diantara menuruti hawa nafsu adalah cekatan (bersegera) dalam mengerjakan bermacam-macam ibadah sunat dan malas mengerjakan kewajiban-kewajiban (yang fardhu atau yang wajib).

144.Allah mengikat semua ketaatan dengan waktu-waktu tertentu agar supaya adanya penundaan tidak mencegah kamu (dalam mengerjakannya). Dan Allah memperluas waktu kepadamu agar masih ada kesempatan memilih bagimu.

145.Barangsiapa yang menganggap aneh kalau Allah bisa menyelamatkannya dari pengaruh syahwatnya dan bisa mengeluarkan dari kelalaiannya, maka benar-benar dia telah menganggap lemah kekuasaan tuhan. padahal Allah terhadap segala sesuatu sangat kuasa.

146.Terkadang berbagai kegelapan (kesengsaraan) yang menimpa kepadamu untuk memberi pengertian kepada kadar (ukuran) pemberian Allah yang diberikan kepadamu.

147.Barangsiapa yang tidak mengerti akan berbagi nikmat ketika datangnya nikmat itu, maka Allah akan memperlihatkannya ketika tidak adanya nikmat itu darinya (maksudnya ketika nikmat itu dicabut darinya baru bisa merasakanya akan nikmat tersebut)

148.Manisnya (lezatnya) hawa nafsu yang menetap dalam hati itu merupakan penyakit yang sukar untuk disembuhkannya.

149.Tidak ada yang bisa mengeluarkan syahwat dari dalam hati kecuali rasa takut yang menggetarkan (ditakut-takuti dengan bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur’an mengenai datangnya kematian, hiruk pikuknya hari kiamat, penghisaban, penimbangan amal, pedihnya siksa neraka) atau rindu yang menggelisahkan (digembirakan dengan nikmat-nikmat surga)

150.Sebagaimana Allah tidak menerima amal yang disekutukan (dengan riya dan ujub), begitupula Dia tidak menerima hati yang disekutukan (dengan tuntutan hawa nafsu). Amal yang disekutukan, Dia tidak menerimanya dari hati yang disekutukan tidak akan menghadap kepada-Nya.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2011 in Religi, sufi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: