RSS

WAHAI ANAKU

Alhamdulillah.
Segala puji hanya bagi Allah. Sholawat serta salam semoga senantiasia tercurah kepada junjungan nabi Muhammad saw.

Alhamdulillah saat ini saya coba untuk menuliskan kembali salah satu terjemahan dari karangan imam Al Ghazali. Dari buku yg berjudul “Ayuhal Walad”
Di tengah himpitan ekonomi yang terus menjepit. Dan memang sangat sulit untuk menempuh jalan sufi ini walaupun kita telah membaca banyak.kitab dan berbagai macam disiplin ilmu telah kita kuasai. Namun saat masalah ekonomi menjerat kadang itu menjadi penghalang dan membuat hati bimbang. Maka di antara kesempitan itu saya coba untuk menuliskan terjemah buku ini. Semoga bisa menjadi peneguh dan penyemangat saya. Dan berguna bagi para pembaca.

WAHAI ANAKU

Judul Asli
Ayyuhal Al-Walad

Penulis
Imam Al Ghazali

Mukodimah

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah,
Dialah Tuhan yang menggengam semesta ini.
Dia pula yang menjanjikan akhir yang gemilang buat oeang-orang bertakwa.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan ke haribaan baginda yang mulia Nabi Besar Muhmmad saw. Begitu pula kepada seluruh keluarganya. Amin.

Langsung saja, saudaraku, alkisah ada seorang murid taat yang boleh dibilang telah lama menimba ilmu kepada syaikh Imam Zainudin Hujatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al-Gazali atau  Al-Ghazli begitu saja orang menyebutnya.  Begitulah memang seorang ulama besar itu akrab dipanggil dalam dunia Islam.meski sekarang sang murid hanya bisa menoakannya, semoga Allah mensucikan diri dan jiwa gurunya,  setidaknya ia telah meyerahkan segala pikiran dan tenaga untuk belajar, mengikuti seluruh pengajian an perkembangan keilmuan dari gurunya. Tuntas sudah ilmu yang ia inginkan. Pernik-pernik pengetahuan yang amat susah bahkan telah ia boyong kedalam dirinya. Semuanya sudah ia ungsikan ke otaknya, ia juga mencari kesempurnaan dalam keutamaan jiwanya, agar menjadi manusia yang lebih yang utama, dan yang mempunyai intgritas moral sampailah ia pada diriya sendiri, ia mulai berfikir dan mereungi dirinya sendiri, ia sadar, sesungguhnya ada keinginan lain yang belum lunas dan selalu saja bergemuruh dalam dirinya
“Aku mempelajari seluruh disiplin ilmu. Ku telah habiskan seluruh usiaku untuk belajar dan mengumpulkan pengetahuannya. Sekarang sudah saatnya aku mengetahui, mana diantara ilmu-ilmu itu yang bermanfaat di masa depanku dan memperhatikan nasibku nanti di dunia seteh kematianku. Manapula yag tidak ada gunanya bagiku sehingga aku harus menggalkannya. Bukankah dulu nabi muhammad pernah berdoa

“Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat” begitulah piran yanng selalu menjuntai di daam benak sang murid
kegelisahan kian menjadi-jadi sang murid memutuskan untuk menulis surat kepada guru, Al-ghazali, semoga Allah memberi rahmat padanya. Ya apalagi kalau buka meminta fatwa dari gurunya itu.ia bertanya banyak hal kepada gurunya, ia meminta nasihat dan doa. Meski guru telah menulis kitab ihya atau kitab-kitab yang lain yang telah jelas menjawab semua kegelisahanku, tapi aku ingin beliau menulis khusus untuku. Aku ingin sebuah tulisan  yang akan aku genggam hingga akhir hayatku dan aku persembahkan seluruh usiaku untuk mengamalkkannya ” tekad sang murid begitu kuatnya.
Karena itu. Buku yang ada di tangan para pembaca inilah sesungguhnya yang merupakan jawaban sang guru Al Ghazali. Beliau menjawab semua permintaan muridnya itu dengan karya ini. Ya inillah yang ditulis al ghazali untuk muridnya. Wallahu A’lam.

MENGAMALKAN PENGETAHUAN
Anaku, semga Allah menganugrahkanmu umur panjang agar kamu bertaat kepadaNya dan menempuh jalan yang disukaiNya. Ketahuilah, Nasihat ini sesunguhnya  menyeruak dari risalah yang terpendam. Karena itu, jika ia telah berhasil mengusung nasehat kepangkuanmu. Perkenankan aku bertanya, ada keperluan apa sebenarnya dirimu terhadap nasehatku ini? Namun jika ternyata belum, tolong atau coba katakan kepadaku , apa yang sebenarnya telah kamu dapatkan di tahun-tahun yang lalu? Aku ingin tahu . apakah yang kau dapatkan itu lebih bijak dari nasihatku ini? Itu saja

Anaku…, sebagian yang di nasehatkan oleh Nabi Muhmmad kepada umatnya adalah tanda-tanda keengganan Alllah menatap hambaNya sendiri

“Tanda bahwa Allah telah memulai meninggalkan hambaNya adalah ketika seorang hamba larut dalam kesibukan hal-hal yang sebenarnya Allah sendiri tidak menghendakiNya. Jika satu waktu saja usia orang lenyap demi sesuatu yang selain Allah maka bisa dimengerti seandainya kesegsaraannya dibuat menjadi semakin panjang. Siapa yang usianya lebih  dari empat puluh tahun , sedang perilaku bejatnya melebihi kebaikannya maka bersiaplah untuk ke neraka”
Begitulah sabda nabi.
Perlu kamu ketahui bahwa menerima nasihat itu mudah, akan tetapi mengamalkannya amat sulit. Bagi para pemuja hawa nafsu nasehat sama rasanya dengan menelan mentah-mentah  pil yang amat pahit. sebaliknya, sesuatu yang dilarang justru menjadi sangat digandrungi di hatinya. Apalagi bagi pemburu pengetahuan yang hanya formalitas saja. Begitu juga mereka yang hanya memanjakkan keinginan dan melunasi hasrat duniwi. Sungguh mereka menyangka
bahwa pengetahuan semata telah cukup dan telah sanggup membuat mereka
berhasil dan menuai segala cita-cita, nenggapai hari esok dan merengkuh masa depan.
Mereka tidak perlu mengamalkan ilmu, ilmu ya ilmu. Pengamalan adalan persoalan lain. Menggunakan pengetahuan bukanlah hal yang peting bagi mereka. Ya, inilah sebenamya yang menjadi akidah bagi para fislof selama ini. Subhanallah, sungguh mereka tida sadar bahwa diri mereka sedang terbujuk . Bukankah ketika seseorang menimba ilmu pegetahuan tetapi tidak mengamalkannya Justru telah di peringatkan oleh Nabi dalam sabdanya

“Manusia yang paling berat azabnya dihari kiamat adalah orang yang berilmu dan Allah tidak memberikan manfaat kepadanya dengan ilmunya  ”
Pernah ada  kisah, mendiang imam Junaid penah hadir dalam mimpi seseorang “Apa kabar Junaid?” junaid menjawab”Semua ibarat adalah sesat. Petunuk-petunjukpun telah lenyap tidak ada lagi yang memberikan manfaat kecuali rokaat-rokaat sholat pada pertengahan malam yang telah lama aku lakukan.”
Karena itu anakku janganlah engkau diam tapa mengamalkan ilmumu. Janganlah sikap dan keadaann kita saat ini tanpa arti yakinlah bukan pengetahuan yang membutuhkan tangan kita akan tetapi kitalah yang harus meghampiri dan mengamalannya.
Seandainya ada seorang laki-laki berdiri di tanah lapang dengan senjata mematikan di tangan, ia bukanlah seorang pengecut dan pecundang dan di depannya ada seekor singa buas yang  lapar siap menerkam. Sekarang coba katakan, bagaimana menurutmu? Apakah senjata-senjata di tanggannya dapat menghalau singa itu tanpa di gerakan?  Sungguh Pedang dan senjata yang ada di tangannya tak mampu berbuat apa-apa. Jika tidak ada tangan yang  menggerakannnya.
Begitu pula kiranya ilmu pengetahuan. Andai seseorang menguasai seribu macam ilmu pengetahuan beserta masalah-masalah pelik yang disuguhkannya, namun ia tidak mengamalknnya, pecayalah, semua itu tidak ada artinya. Pengetahuan tanpa pengamalan sungguh tiada guna. Atau katakan saja ada orang yang diserang penyakit yang sangat melelahkan yang telah diketahui tidak akan sembuh keuali dengan izin Allah dan obat yang bernama “Sakkanjabin”. Karena itu, saya  berani memastikan keseembuhan  tidak akan datang kecuali si sakit meminum obat itu.

“Jika kau simpan seribu gantang arak, percayaah, ia takan membuatmu mabuk  kecuali enggkau meminumnya” 
Jika kau belajar seribu tahun, kau karang seribu buku, percayalah kau tetap tak layak menerima rahmat Tuhan, kecuali engkau amalkan apa yang telah kau dapatkan itu. Bukankah Tuhan telah berfiman dalam Al-Qur’an

“Dan bahwasanya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya ” (QS. An Najm: 39)
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh.” (QS. Al-Kahfi: 110)

“Sebagai balasan dari apa yang mereka kerjakan,” (QS. At Taubah: 82)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya,mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya” (QS. Al-Kahfi: 107-108)

“Maka datanglah setelah mereka, pengganti-pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan  memperturutkan hawa nafsu, mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh,maka mereka akan masuk surga dan tidak akan di aniaya sedikitpun” ( QS. Maryam 59-60)

Bersambung….
Insya Allah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2015 in sufi

 

Tag:

TERJEMAH MINHAJUL ABIDIN PDF

بسم لله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي سيدنا محمد وعلي اله وصحبه اجمعين. اما بعد

Hari ini saya bisa mengupdate kembali blog saya

pada kali ini insya Allah akan saya upload terjemah minhajul abidin karangan iman Al Ghazali yang di terjemahkan oleh K. H. Abdulah Bin Nuh dari sekian banyak buku terjemah yang telah beredar dan saya punya. karena menurut saya terjemah ini lah yang paling menyentuh dan meresap di hati saya, dan merupakan buku terjemah koleksi saya.

setelah saya coba untuk mengetik ulang, namun dengan keterbatasan teknis dan lain-lain, Allah menunjukan jalan lain untuk mendokumentasikannya dan Alhamdulillah dengan bantuan teknologi akhirnya hal itu bisa mempermudah saya.

semoga buku terjemah ini dapat bermanfaat bagi saya dan mereka yang mencari atau menempuh jalan sufi namun terbentur masalah bahasa

saya ucapkan terimakasih kepada Imam Al Ghazali dan  K.H Abdulah Bin Nuh, semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada beliau dan menempatkan beliau dalam rahmat dan karunia-Nya.

adapun file pdf ini saya bagi kedalam beberapa bagian yang bisa di unduh antara lain

1. bagian  MUKODIMAH

2. bagian TANJAKAN ILMU DAN MA’RIFAT

3. bagian MUKODIMAH TAUBAT

4. bagian TANJAKAN PENGHALANG1

5. bagian TANJAKAN PENGHALANG2

6. bagian TANJAKAN GODAAN

7. bagian TANJAKAN PENDORONG

8. bagian TANJAKAN PENCELA

9. bagian TANJAKAN PUJI DAN SYUKUR

10. bagian RALAT

Read the rest of this entry »

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 3, 2014 in Religi, sufi

 

Terjemah Minhajul Abidin bagian 5

Adapun yang dimaksud dengan ilmu ialah Ilmu untuk mengetahui cara-canya menempuh jalan kepada keridoan Allah, dan yang dapat mendekatkan orang kepada-Nya, dan apa-apa yang menjauhkan dia dari ..Allah S.W.T. Dan mengetahui pula musibah-musibah, pendakian-pendakian dan bahaya-bahaya dalam perjalanan itu, kesemuanya itu banyak diterangkan dalam kitab ini.
Selanjutnya, setelah keterangan-keterangan mengenai goflah dan gurur, maka ketahuilah pula mengenai amal-amal lahir seperti salat, puasa dsb.nya, itu semua ada hubungannya dengan amal batin yang akan memperbaiki atau merusak amal lahir, seperti : ikhlas; ikhlas dapat menjadikan baik amal lahir.
Amal batin yang merusak amal lahir, ialah seperti r i y a, ujub, dzikrulminnah dan sebagainya; kesemuanya ini akan diterangkan nanti pada babnya masing-masing.
Siapa yang tidak mengetahui amal batin dan tidak mengetahui akan pengaruhnya terhadap ibadah lahir dan tidak tahu -pula cara-caranya agar jangan ada, akibatnya sedikit sekali yang selamat daripadanya dan mereka luput/kehilangan pahala taat lahir dan batin, dan yang ada pada tangan mereka hanya kecelakaan dan kepayahan, dan yang demikian itu suatu kerugian yang nyata.
Oleh karenanya, Rasulullah SAW. telah bersabda mengenai ilmu
Artinya :
“Bahwasanya tidur dalain keadaan berilmu, lebih baik daripada salat dalam keadaan bodoh”.
Karena yang beramal tanpa ilmu, lebih banyak rusaknya daripada benarnya, dan sabda Rasulullah S.A.W. tentang ilmu :

Bahwasanya ilmu itu diilhamkan kepada orang-orang yang bahagia, dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.
Dan makna hadits ini ialah bahwasanya salah satu dari dua kecelakaan dari orang yang beramal tanpa ilmu; pertama : ia tidak belajar i1mu, kemudian ia merasa payah dan lelah dalam mengerjakan ibadah yang telah rusak; bagiannya hanya kepayahan belaka.
Semoga Allah melindungi kita dari ilmu dan amal yang tiada bermanfaat.
Oleh karena itu, maka ulama-ulama yang saleh lagi zuhud dan mengamalkan ilmunya, sangat besar perhatiannya khusus kepada ilmu, karena ilmu itu adalah pokok dari segala perkara ibadah dan pangkal dari

ta’at kepada Allah Rabbul ‘Alamin, demikian pula halnya pandangan dari orang-orang yang berpengetahuan dan pandangan ahli-ahli yang
C,
mendapat bimbingan dan taufik.
Jika kamu telah mengetahui kesemuanya ini (bahwa ta’at itu tidak akan berhasil dan tidak akan selamat jika tanpa ilmu) maka dalam ibadah, kamu mesti mendahulukan ilmu.
Adapun hal yang kedua, yang mewajibkan agar ilmu didahulukan ialah karena ilmu bermanfaat itu menimbulkan takut dan haibat kepada Allah S.W.T.
Firman Allah S.W.T. :
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari golongan hambaNya, ialah  yang berilmu”.
Dan tandanya ilmu menimbulkan takut kepada Allah ialah bahwa orang yang tidak mengenal Allah S.W.T. dengan sebenar-benar, ma’rifat, pasti ia tidak bisa takut sebenar-benarnya dan tidak pula bisa mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, demikian pula menghormat-Nya.
Maka dengan ilmu jua, barulah orang itu bisa ma’rifat kepada Allah serta meng-agungkan-Nya.
Jadi ilmu itu membuahkan taat dan dapat menghalangi maksiyat dengan taufiq Allah S.W.T. Dan tidak ada lagi yang harus dituju dalam ibadah kepada Allah, selain dari menurut perintah dan menjauhi larangan-Nya.
C,
Oleh karena itu wajib bagimu, wahai orang yang menuntut akhirat, untuk menghasilkan ilmu dahulu sebelum segala sesuatunya.
Semoga Allah memberikan petunjuk, karena Allah itu Pemberi taufiq dengan karunia dan rahmat-Nya.
Mungkin engkau akan berkata : oleh karena telah ada hadits Nabi S.A.W. mengatakan
I

Artinya :
“Menuntut ilmu itu fardu bagi tiap-tiap orang Islam”; dan ilmu-ilmu apa yang difardukan, dan sampai dimana batas yang harus dicapai dalam urusan ibadah ?.
Ketahuilah bahwa ilmu yang fardu bagi setiap makhluk itu ada 3
Pertama : Ilmu Tauhid, yakni ilmu ma’rifat kepada Allah.
Kedua : Ilmu Tasawuf, yakni ilmu yang ada hubungannya dengan urusandan pekerjaan hati, seperti ikhlas dan tawakkal dsbnya.
Ketiga: Ilmu Syara; halal dan haram yaitu rubu’ ibadah, Muamalat, Munakahat, Jinayat.
Berkata Ibnul Qojim dalam Kitab Y>
bahwa ilmu yang Fardu ‘ain yang tidak boleh tidak, harus diketahui oleh setiap Muslim itu ada beberapa macam
Pertama : Ilmu pokok Iman yang lima, ialah :
Iman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada Kitab-kitabNya, kepada Rasul-Nya dan kepada Hari Kemudian.
Orang yang tidak beriman kepada yang lima ini, ia tidak termasuk pada suku Iman dan tidak berhak mendapat nama “Mu’- min”.
Firman Allah S.W.T. :

“Kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah S.W.T. dan hari akhir, dan Malaikat, dan Kitab dan Nabi-nabi.
Dan firman-Nya pula :

“Dan siapa-siapa yang kufur kepada Allah dan Malaikat-Nya dan Kita-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan kepada Hari Akhir, maka ia telah sesat sejauh-jauhnya sesat”
Maka iman terhadap semua pokok-pokok ini, merupakan buah untuk mengenal dan mengetahuiNya.
Kedua Ilmu Hukum Islam yang harus diketahui, ialah apa-apa yang perlu bagi setiap orang seperti ilmu wudu, salat, puasa, haji, zakat dan masalah-masalahnya, syarat-syaratnya dan pembataIan-pembatalannya.
Ketiga Ilmu untuk mengetahuipengharaman dari yang lima; yang telah mengetahui seluruh Rasul dan Syari’at-syariat dan kitab Ketuhanan, ialah yang tersebut dalam Firman Allah :

“Katakan olehmu sesungguhnya Tuhanku telah mengharamkan segala yang keji-keji, baik yang lahir maupun yang batin, dan mengharamkan dosa dan hal-hal yang zolim yang tidak dengan hak, dan yang menyekutukan Allah, serta mengatakan apa-apa yang tidak ada dalam Kitab Suci dan Sunnah Rasul”.
Selain dari yang lima ini, juga diharamkan tapi tempo-tempo diperbolehkan, contohnya seperti :
bangkai, darah dan daging babi, hukumnya haram, tapi jika terpaksa seperti kalau tidak ada makanan tentu akan kelaparan sedangkan makanan yang dihalalkan tidak ada sama sekali; maka disitu diperbolehkan.
Jadi yang tersebut diharamkan itu tidak selamanya; tentu hal itu tidak termasuk kepada yang diharamkan dengan mutlak, seperti lima tadi, karena yang lima itu tidak boleh ada alasan apapun, seperti : terpaksa saya musyrik dsbnya.
Keempat Ilmu hukum-bergaul dan ilmu muamalat yang terjadi antara seorang dan orang lain.
Yang wajib dalam ilmu ini berbeda-beda yaitu menurut tingkah laku manusia dan kedudukannya; misalnya : antara pemimpin dengan rakyatnya, antara seorang dengan keluarganya dan dengan tetangganya, kewajibannya itu berlainan yakni : kewajiban pemimpin terhadap rakyatnya, tidak sama dengan kewajiban seseorang terhadap keluarganya; kewajiban seorang Kepala Negara atau Kepala Daerah itu lebih berat lagi, dan pahalanyapun lebih banyak lagi.
Sabda Rasulullah S.A.W. :
Adil menjadi pemimpin atau Bapak, adilnya dalam satu jam saja, pahalanya lebih dari 60 tahun ibadah, sebab tugasnya sangat berat.
juga, kewajiban pedagang, lain lagi dengan kewajiban seorang petani. Kalau kita hendak berdagang, kajilah ilmu dagang dalam segi hukum agama; misalnya seorang pedagang sarung menjual sarungnya; dalam hukum agama pedagang itu harus memberitahukan cacadnya jika ada, misalnya Sarung ini harganya sekian, lebih murah dari yang lainnya sekalipun jenis dan mutunya sama, karena ada cacadnya, dsbnya.
Ada orang yang mengira bahwa kalau demikian jujurnya, tentu dagangannya tidak akan laku. Sebetulnya tidaklah demikian, bahkan orang akan berduyun-duyun membeli barang dagangannya, karena jujumya itu. Modal yang terpenting dalam berdagang ialah kejujuran.
Seorang petani, juga mempunyai kewajibannya tersendiri; misalnya adil dalam membagi air dan lainnya, sebagaimana tersebut dalam peraturan Ziro’ah, Muzaro’ah, musaqoh dan lain-lain.
Itu semua kembali kepada 3 pokok.
Soal i’tikad, soal perbuatan dan soal menjauhi larangan; itulah yang harus diketahui ilmunya.
Dalam soal i’tikad yang wajib ialah harus sesuai dengan hak; dan tidak dibenarkan i’tikad dengan mengikut saja/taklid.
Yang wajib dalam soal perbuatan, ialah mengetahui ilmu tentang gerak-gerik yang wajib atas dirinya.
C’
Yang wajib dalam menjauhi larangan, ialah mengetahui ilmu tentang apa-apa yang tidak boleh dikerjakan menurut hukum Syara’.
Dan menurut keterangan dalam kitab
Bahwa pendapat Ulama mengenai ilmu yang fardu itu bermacam-macam. Yang paling mendekati maksud itu ialah ulama yang mengatakan bahwa Yang fardu itu ialah ilmu untuk mengetahui tentang perintah-perintah dan larangan-larangan.
Adapun batas yang wajib dari tiap-tiap ilmu yang tiga tadi, yang fardu ‘ain dari ilmu Tauhid, ialah sekedar kamu dapat mengetahui tentang pokok-pokok Agama Islam, yaitu mengenai ke-Tuhanan, kenabian dan mengenai mahsyar.
Yang mengenai ke-Tuhanan ialah engkau harus mengetahui bahwa engkau mempunyai Tuhan yang wajib disembah, lagi sangat Mengetahui akan segala sesuatu, dan Maha Kuasa, Berkehendak, Hidup, ber-Firman, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Esa; bersifat dengan segala sifat yang sempurna.
Maha Suci dari segala sifat kekurangan, dari, yang tidak ada dan dari apa-apa yang menunjukkan kebaharuan, seperti : asalnya tidak ada kemudian ada, hal ini walaupun sudah berjalan ribuan tahun, tetap dikatakan baru. Allah bersendiri dalam sifat qidam dan baqa karena yang selain dari Allah, ada permulaan dan ada akhirnya.
Dan kita harus mengetahui dan meng-itikadkan bahwa Sayyidina Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya yang selalu benar dalam
dalam ucapan dan keterangan-keterangannya mengenai akhirat, seperti mengenai nikmat kubur dan siksanya, dlsbnya.
Kemudian wajib mengetahui beberapa masalah yang di’itikadkan oleh s-Sunnah wal Jama’ah yang merupakan golongan terbesar pengikut yang masyhur, yang disebut Assawadul A’dzom.
Dalam. Ahli Sunnah ada golongan mengenai Ilmu Syari’ah: ada Hanafi, ada Maliki ada Syafe’i dan ada Hambali dan tidak saling celamencela antara yang satu dengan yang lain, sebab diinsyafi bahwa soal ijtihad dasarnya dugaan yang kuat. Dan kalau sudah dibuka pintu ijtihad oleh Allah S.W.T. atas lisan Nabi Muhammad S.A.W., maka tidak bisa dielakan lagi sewaktu-waktu tentu akan ada perbedaan pendapat para mujtahidin.dan perbedaan-perbedaan tersebut tidak akan membahayakan agama kita. Dalam hal ini, untuk menghilangkan kekhawatiran, Rasulullah telah menjelaskan bahwa : siapa-siapa yang ijtihadnya salah, akan diganjar satu, apalagi yang tepat; maka ia akan diberi dua ganjaran.
Dan waktu beliau masih ada, para sahabat juga dianjurkan untuk berijtihad.Seperti halnya Syech Muadz bin Jabal, telah disuruh oleh Rasulullah untuk berijtihad : “Kau menjadi gubernur di negeri Yaman dan jauh daripadaku, oleh karena itu berijtihadlah apabila tidak mendapat nash dari Kitab dan Sunah”.
Dan karena diperbolehkan berijtihad, maka lahirlah mazhab-mazhab; sebab artinya hasil dari ijtihad orang-orang yang ahli.
Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa pada zaman Rasulullahpun sudah ada mazhab-mazhab itu.
Ada mazhab Muadz bin Jabal, ada. mazhab Abdullah bin Umar, ada mazhab Abu Lullah bin Abbas, ada. mazhab Abdullah ibn Amr bin Ash, ada mazhab fulan, fulan sahabat Rasul yang besar-besar.
Berlainan faham, tetapi tidak saling cela-mencela; dengan demikian keadaan Ummat Islam pada zaman itu sangatlah kompak dan harmonis. Soal mazhab dan soal ikhtilaf sudah selesai dari sejak abad pertama Chairulqurun.
Hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah, supaya ummat Islam diakhir jaman jangan lagi cekcok dalam soal. ini.
Wasiat, saya : “Janganlah kita mencela orang yang berlainan mazhab dengan kita”.
Sebagaimana keadaan para sahabat dan para tabi’in

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2013 in Religi, sufi

 

Tag:

Terjemah minhajul abidin bagian 4

Perbedaan bunyi huruf Dho dengan dzo sehingga sampai lupa memperhatikan dan menjaga syarat-syarat dan rukun lainnya apa lagi memikirkan maknanya bacaan atau hikmah-hikmah dan asrornya shalat.
Inipun suatu kekeliruan (gurur) karena yang diperintahkan dalam bacaan itu ialah bunyi-bunyi huruf sebagaimana yang dipakai dalam berbicara bahasa Arab. tidak diberat-beratkan atau dilebih-lebihkan dari yang sernestinya.
Bagian ketiga yang terkena gurur itu adalah golongan ahli Tasawuf. gurur disini banyak pula macamnya, terutarna. ahli-ahli Tasawuf zaman sekarang. Kecuali yang dipelihara olch Allah. Diantaranya ialah yang mengaku bahwa dia telah merniliki ilmu ma’rifat dan telah dapat melihat Tuhan dengan mata hati dan telah melalui beberapa tingkatan dan ahwal dan lain istilah dalam ilmu tasawuf, mereka mengaku bahwa dirinya sudah dekat kepada Allah, padahal mereka itu hanya tahu nama saja, yang dapat mereka dengar dari lafadz-lafadz yang bisa menjadi keliru dan sesat.
.Mereka menyangaka bahwa yang demikian itu ilmu yang tertitnggi dari ummat yang awal dan yang akhir, mereka memandang kepada ahli-ahli Fakih dan ahli tafsir dan ahli-ahli hadits dan kepada golongan-golongan ulama, dengan pandangan rendah dan menghina, terutama sekali terhadap orang awam. Orang awam dalam pandangan mereka adalah seolah-olah binatang ternak saja. Oleh karena gururnya itulah yang mengakibatkan orang awam, yang menjadi petani telah meninggalkan sawahnya, mereka tidak mau lagi menggarapnya: sementara penenun meninggalkan pula tenunannya. Mereka hanya selalu mulazamah/menggauli sepanjang harinya, ahli-ahli tasauf gadungan itu dan mendengarkan kalimat-kalimat yang diucapkannya saja, yang tidak ada isinya samasekali, mengulang-ulangi kata-kata itu seolah-olah mengucapkan wahyu dari langit, dan rahasia-rahasia yang tersembunyi. dan meluncur lidahnya menghina ahli-ahli ibadah dan ahli-ahli ilmu.
Terhadap ahli ibadah ia mengatakan bahwa yang mengerjakan ibadah-ibadah itu, hanya membuat dirinya payah saja dan terhadap ahli ilmu mereka mengatakan bahwa yang membicarakan soal ilmu-ilmu itu, mereka terhijab/tertutup dari Allah.
Selanjutnya mereka mengaku bahwa hanya merekalah yang sudah sampai kepada Allah dan mendapatkan pangkat muqorrobin, padahal sebetulnya mereka dalam pandangan Allah termasuk golongan pujjar/lacut dan munafiq dan dalam pandangan orang-orang yang mempunyai hati yang cerdik, mereka itu termasuk golongan orang yang otaknya miring, dungu dan tertipu, tidak mempunyai ilmu sama-sekali, dalam Tauhid, Fiqih dan tasauf yang sebenarnya, mereka betul-betul tidak mempunyai didikan hati untuk mujahadah, dan tidak melakukan amal untuk sampai kepada keridoan Allah, dan hatinya melupakan zikir sehingga selalu menurutkan keinginan nafsu dan syahwat dan menerima perkataan yang sia-sia. Betapa hebatnya gurur ini
Dan ada lagi golongan yang menghabiskan waktunya dalam mujahadah/berjuang mendidik akhIak dan membersihkan diri dari celaan, akan tetapi terlalu mendalam, sehingga terus-terusan mereka mencari ke’aiban diri dan mengkaji tipuan-tipuannya, sehingga menjadi pekerjaan sehari-hari. Semua kelakuan, terlalu mendalam diteliti, ini ‘aib, itu buruk, dstnya; orang yang menghabiskan umurnya hanya untuk meneliti yang ‘aib-‘aib saja, sama halnya dengan seorang yang hanya mengingat-ingat dan menghitung-hitung saja bahaya-bahaya dalam menunaikan ibadah haji, yang akhirnya ia tidak jadi naik haji.
Bagian ke4, yang terkena gurur itu, ialah golongan hartawan, golongan yang banyak uang. Inipun banyak pula ragamnya, diantaranya ada segolongan yang sangat gemar bersedekah kepada fakir dan miskin, tapi dengan syarat diketahui oleh orang banyak.
Fakir miskin yang disukai olehnya ialah yang suka menceritakan kebaikan/ memuji sihartawan. itu. Mereka tidak suka bersedekah dengan diam-diam. Adapun bersedekah dihadapan orang lain dengan maksud untuk memberi contoh dan mengetuk hati orang lain supaya gemar bersedekah, hal itu baik. Dalam hal demikian yang menjadi soal ialah tujuan (niat) dalam hati/tujuan batin.
Ada lagi golongan yang sangat gemar membelanjakan hartanya untuk naik haji, mereka sangat sering pulang-pergi naik haji beberapa kali, padahal tetangganya banyak yang kelaparan. Oleh karenaya Ibnu Mas’ud telah berkata : Nanti pada akhir zaman akan banyak orang pergi haji dengan mudah sekali karena banyak rizkinya dari perdagangan dan lainnya. Akan tetapi sekembalinya dari haji, mereka hampa dari ganjaran, tak mendapat pahala, karena tetangga yang rapat dengan rumahnya yang mendapat kesukaran dan kesusahan tidak diperdulikannya, bahkan ditanyapun tidak. Duduknya hukum : menolong kesusahan tetangga yang dekat adalah wajib. dan naik haji yang kedua kali dan seterusnya hukumnya sunnah.
Ada lagi golongan yang banyak uang, mereka sangat repot menjaga dan menahan uangnya supaya tidak dibelanjakan karena sangat sayangnya kepada uang itu.
Dalam peribadatan, mereka memilih hanya ibadah yang dapat dikerjakan badan saja, tidak usah mengeluarkan uang, mereka repot mengerjakan banyak puasa sunat pada siang hari dan salat sunat pada malam hari dan sering-sering khatam membaca Al-Qur’an; akan tetapi mengeluarkan uang, untuk jihad, atau membantu keperluan yang dibutuhkan agama seperti amal jariah untuk mesjid atau madrasah atau rumah yatim dsbnya, mereka sangat kikir. Mereka itu gurur, karena meninggalkan amal yang lebih penting dan dibutuhkan.
Sebagian lagi gurur dari golongan orang awam, hartawan dan fakir, mereka meng-itikadkan bahwa bila hadir pada mailis zikir/ilmu sudah mencukupi kewajiban, mereka menjadikan hal ini sebagai adat kebiasaan yang tak dapat dipisahkan dan menyangka bahwa dengan hanya mendengar nasehat-nasehat saja, walaupun tidak mengamalkannya sudah tentu mendapat pahala dari Allah S.W.T. Inipun satu kekeliman pula (gurur), karena kebaikannya hadir pada majlis ilmu itu, dimaksudkan untuk membangkitkan minatnya untuk beramal.
Adapun yang dimaksud dengan Ma’rifat ialah bahwa orang harus
0
mengenal 4 perkara
Mengenal dirinya 2. Mengenal Tuhannya 3. Mengenal dunia 4. Mengenal akhirat.
Arti mengenal diri ialah merasa bahwa ia seorang hamba Allah, yang rendah dan butuh.
Arti mengenal Tuhannya yaitu ia tahu benar dan yakin bahwa hanya Allah yang berhak dipertuhan, yang Agung dan yang Berkuasa.
Selanjutnya ia merasa pula bahwa didunia ini, ia sebagai pengembara yang Sedang menuju ketempat kembalinya yaitu Akhirat, dan ia asing akan syahwat kebinatangan.
Yang cocok dengan dirinya sebagai seorang manusia ialah mengenal Tunannya, tapi tidak akan tergambar perasaan ini, bila ia tidak mengenal dirinya dan tidak mengenal Tuhannya.
Oleh karena itu, hendaklah orang mencari pertolongan untuk sampai kesana dengan keterangan-keterangan yang ada. dalam “Kitabul, Mahabbah dan Syarh Ajaibul-qolb dan Kitab ttafakkur dan Syukur yang ada dalam Kitab, 1hya ‘Ulumuddin”. Disana banyak petunjuk-petunjuk tentang keadaan diri, dan keagungan Allah, dan setiap orang dapat mengambil peringatan bagi dirinya. Dan orang akan dapat mengenal dunia dan akhirat dengan keterangan yang ada dalam Kifabuzammid dunya (celaan dunia) dan kitab dzikril maut (ingat akan maut), juga dalam Ihya ‘Ulumuddin, agar jelas bagi setiap orang perbedaan dunia dengan akhirat.
Bilamana orang telah mengenal dirinya & Tuhannya dan mengenal pula akan dunia dan akhirat, tentu akan timbul dari hatinya cinta kepada Allah buah dari ma’rifat kepadaNya. Dengan mengetahui akhirat, akan timbul kegemaran/kangen akan (akhirat); dan dengan mengetahui dunia, tentu ia tidak akan terpikat olehnya, dan setelah itu, maka yang dianggap paling penting olehnya ialah semua yang dapat menyampaikan dia kepada keridoan dan rahmat Allah dan yang bermanfaat untuk dia nanti diakhirat.
Jika yang demikian telah melekat dalam kalbunya, tentu akan menjadi baik niatnya dalam segala urusan, niatnya dengan makan atau qodo hajat yaitu untuk membantu kelancarannya menempuh jalan akhirat, jadi niyatnya itu sah dan semua kekeliruan tertolak daripadanya, karena yang merusak niyatnya itu ialah gurur yang tumbuh dari cenderung kepada dunia, kemegahan dan harta.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 25, 2013 in Religi, sufi

 

Tag:

CARA MENGATASI ANDROMAX I YANG TERKUNCI

Suatu hari andromax i ku terkunci karena salah 5 kalu memasikan kata sandi. Tapi kemudian di coba terus akhirnya kebuka sendiri.
Setelah beberapa lama terulang kembali kejadian salah memasukan kata sandi maka setelah di coba berkali-kali tetap ga ada hasil. Al hasil stres yang ada. Maka saya coba tanya ke mbah google siapa tahu ada pencerahan setelah lama mencari akhirnya ketemu jua dengan jawaban yang masalahnya mirif dengan yang saya alami sekarang.
Berikut saya tuliskan cara tetsebut.

1, matikan maxi kemudian tekan tombol volume bawah bersama tombol power.

2, Tunggu sampai logo tobot hijau muncul kemudian tekan tombol rumah (gambar rumah)

3, maka munculah menu dan pilihlah menu wipe / pactory reset dengan menggunakan tombol volume atad atau bawah.

4, tekan enter dengan menggunakan tombol garis-garis pada pojok kiri bawah atau tombol kamera pada max

5, pilih dell all data.,pada menu berikutnya dengan menggunakan  tombol volume

6, selanjutnya pilih rebooot

7, Selesai sudah dan maxi pun bisa di gunakan kembali.

Catatan
tiap hp punya tombol berbeda untuk memunculkan menu tersebut.

Semoga bermanfaat

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 25, 2013 in teknologi, umum

 

Tag:

Terjemah Minhajul Abidin bagian 3

sifat-sifat yang tercela yang nanti akan diterangkan dalam kitab ini, agar engkau bisa menjauhi sifat-sifat yang demikian.

Apabila tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan, maka tidak mungkin seseorang bisa melakukan taat yang belum dikenalnya.

Apakah taat itu, dan bagaimana cara mengerjakannya ?. Dan bagaimana engkau bisa menjauhi maksiyat yang engkau sendiri tidak mengetahui jenisnya ?bila seseorang tidak tabu bahwa berdusta itu haram, masa bisa ia meninggalkannuya!

Kira harus belajar apa yang wajib dan apa yang haram, supaya kita jangan jatuh kedalam kedurhakaan.

Jadi kita harus belajar, harus mengaji mengenai ibadah syar’i, seperti bersuci, mandi dan berwudu, salat, puasa dsb.nya karena inilah tugas- tugas keagamaan yang fardhu ‘ain hukumnya.

Tiap-tiap Muslim wajib mengkaji ilmu Fiqih, hukum-hukumnya dan syarat-syaratnya, agar dapat melakukannya dengan sebenar-benarnya.

Terkadang engkau terus-menerus melakukan sesuatu yang kau kira baik, bertahun-tahun lamanya, padahal sebenarnya merusak, dan engkau terus melakukan hal-hal yang merusak kesucianmu, salatmu, dstnya. (Sebab pernah ada orang dimesjid disuatu tempat ia tidak mengetahui bagaimana caranya sujud, bagaimana caranya menaruh tangan.

Sudah baik hatinya mau solat, tetapi belum belajarbagaimana caranya solat, solatnya itu tidak cocok dengan yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W.).

Sedang engkau sendiri tidak merasa salah, karena itu fardhu ‘ain harus dikaji, kemudian dilengkapi dengan sunat-sunat: sunat ‘ain yang biasa dikerjakan oleh tiap-tiap orang.

Terkadang ada sesuatu yang sulit (misalnya : dalam bepergian dengan kereta api, ini sulit, bagaimana salatnya ?, sedang engkau sendiri belum pernah mengaji dan pada waktu itu tidak seorang ulamapun untuk tempat bertanya. Oleh sebab itu kita harus mengaji, bagaimana salatnya. Kalau sedang berada didalam kapal, atau kita mau naik haji misalnya. Kalau dikapal haji, tentunya banyak ulama-ulama yang bisa kita tanya, tapi bagaimana kalau sedang berada didalam kereta api, sedangkan tidak ada ulama yang bisa kita tanya

Oleh sebab itu sekali lagi ditekankan, bahwa mengaji itu sangat penting. Demikian pula mengenai ibadah batin, inipun harus kita kaji. Sebagaimana ada ibadah lahir, juga ada ibadah batin, bidangnya ialah ilmu tasauf.

lbadah-ibadah seperti : salat, puasa, naik haji, mengeluarkan zakat; ini semua termasuk ibadah lahir.

Sedangkan ibadah batin diantaranya, kita tidak boleh takabbur.

Lawan takabbur ialah tawadu; dzikrul minnah lawannya udzub; kisorul­amal lawannya tulil-amal, semuanya ibadah batin. Hati kitaharus diisi dengan sifat-sifat yang baik.

Kalau kita tidak mengaji/tidak tahu, kadang-kadang kita melakukan iba­dah lahir saja, sedangkan hati kita tidak melakukan ibadah batin. Kedua-duanya harus dilakukan, agar tidak pincang. Ibadah batin itu ialah amal-amal yang dilakukan oleh hati.

Engkau harus mengetahui dan mengajinya.

(Saya rasa cukup dengan sekedar mengaji kitab Minhadjul-Abidin ini, dan untuk ibadah lahir saya rasa cukup kalau mengaji kitab Bidayatul­hidayah atau Fathul-Qorib).

Ibadah batin itu diantaranya ialah tawakkul (dalam bahasa kita tawakal dan dalam bahasa Arab tawakkul).

Tawakkul itu ialah percaya kepada Allah S.W.T. Dalam segala urusan yang kita khawatirkan, kita serahkan kepada Allah S.W.T.

Manusia itu tidak luput dari kekhawatiran, misalnya : kita berusaha mencari rizki yang halal tapi kita khawatir rugi dalam dagang kita atau sawah kita kena hama yang tidak diduga-duga. Nah kekuatiran itu, kita serahkan kepada Allah S.W.T.

(Nanti dengan panjang lebar akan diterangkan oleh Imam Ghazaly, dalam kitabnya Minhajul-Abidin dllnya yang akan saya kutip sekedarnya, Insya Allah).

Kita jangan menentang, kita harus rido menerima apa yang ditakdirkan oleh Allah S.W.T.

Bagaimana caranya ? nanti akan diterangkan.

Sabar, tahan uji, tahan derita, tahan payah dalam mengerjakan taat kepada Allah adalah sifat orang yang kuat batinnya, sebab arti sabar itu adalah tahan uji batin.

Taubat, bagaimana caranya taubat itu ? nanti Insya Allah akan diterangkan dalam kitab Minhadjul-Abidin dan diambil juga dari kitab-kitab lainnya yang sebagian besar karangan Imam Ghazali juga.

Ikhlas, meskipun ikhlas itu sudah masuk kedalam bahasa kita, tapi perlu juga diterangkan arti ikhlas yang sebenar-benarnya : yaitu meninggal­kan riya dalam amal, dllnya. Nanti semua akan diterangkan.

Engkau harus tahu apa yang dilarang mengenai pekerjaan hati, hati kita suka melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah S.W.T.

Kita harus tahu larangan-larangan batin itu, sebab kalau kita tidak men­jauhi larangan-larangan batin dan tidak melakukan kewajiban-kewajiban batin, apa artinya beragama Islam ?.

Jadi hati nantinya kosong; kalau hati jahat atau busuk, berarti kosong, sebab agama Islam bertugas membersihkan hati.

Kalau hati kita tidak bersih dan tidak saleh, apa artinya beragama Islam? Hanya diSunat dan membaca syahadat waktu menikah.

Salat juga dicampuri dengan riya dan udzub, apa artinya itu ?.

Tidak ada artinya sama sekali. Islam itu harus melakukan amal-amal batin dan menjauhi larangan-larangan batin.

Contoh larangan batin, seperti telah disebutkan tadi, ialah tidak rela ter­hadap takdir Allah S.W.T.

Saya, pernah membaca suatu cerita dalam bahasa Inggeris, ada orang yang kematian isteri dan anak-anaknya, akhirnya ia memaki-maki Tuhan. (orang itu keterlaluan, tidak rela menerima takdir Allah S.W.T. Perbuatan­iya itu merupakan dosa besar.

Amal artinya lupa bahwa kita akan mati, rasanya akan hidup terus. Itu amal dan bukan ‘amal.

Kalau ‘amal dengan ‘ain artinya perbuatan.

Kalau amal dengan hamzah artinya rasa tidak akan mati, itu dosa besar. Sebab kalau kita merasa tidak akan mati, semua ta’at itu akan diundur-undurkan saja.

Dan riya itu perbuatan pura-pura, hanya ingin dipuji oleh manusia dan tidak karena Allah S.W.T.

Dan kibir itu ialah merasa diri besar (sombong). Sebetulnya manusia itu tidak ada yang besar, kenapa ? Dan manusia tidak akan tahu bahwa dirinya besar, sebab ia tahu bahwa dirinya besar dan baik, nanti kalau umurnya sudah berakhir, matinya husnul-khotimah.

Kalau matinya husnul-chotimah, dia besar dan bahagia.

Kalau matinya suul-chotimah, meskipun orang itu, merasa dirinya besar didunia, namun sebetulnya ia hanya kerdil belaka.

Supaya engkau menjauhi semuanya itu.

Dalam Al-Qur’an dengan jelas nash dan ayat-ayat yang mewajibkan kita beribadah batin dan melarang maksiyat batin.

Ayat-ayat yang mengenai hukum lahir hanya ada beberapa ratus ayat, tapi yang mengenai ibadah batin itu hampir dari awal sampai akhir, juga dite­rangkan mengenai maksiyat-maksiyat batin. (Yang menentukan hukum lahir itu hanya :± 500 ayat).

Allah jelas menyuruh ibadah batin, menyuruh sabar; menyuruh tawak­kul, menyuruh rido bil qodo, menyuruh dzikrul-minnah, dllnya. (Kalau ibadah batin semacam itu dianjurkan oleh Al-Qur’an dan oleh Al-Hadits, apa artinya ke-Islaman kita, kalau kita masih bergunjing, masih membohong, masih suka durhaka terhadap ibu dan bapak, masih suka su’udzon terhadap Muslimin, apa artinya kita menjadi Muslim kalau begitu

Apa bedanya dengan orang yang jahat yang bukan Muslim ?. Misalnya dengan Abu jahal, apa bedanya ? Dia tahu bahwa Tuhan itu ada, tapi hatinya busuk. Iblis tahu bahwa Allah itu Maha Esa, tapi hatinya busuk. Jadi sangat penting sekali ibadah hati itu).

Dan Allah dengan jelas melarang lawan-lawan ibadah batin itu, yakni: maksiyat batin.

Begitu pula didalam Hadits, bahkan hadits yang mengenai ini, kebanyakan hadits mutawatir.

Firman Allah :

 

Kepada Allah jua kamu harts tawakkul, kalau betul-betul kamu itu beriman kepada Allah S.W.T.”.

(Tawakkul itu menunjukkan penuhnya iman. Jadi sama wajibnya dengan salat, puasa, naik haji dan zakat).

Allah S.W.T. berfirman :

 

“Kamu haus bersyukur kepada Allah, kalau memang engkau beriba­dah kepada Allah”.

(Jadi kalau kita tidak bersyukur, berarti kita tidak beribadah kepada Allah. S.W.T.)

Apakah syukur itu ?, hal ini akan diterangkan nanti. Untuk keterangan sepintas lalu saja, bersyukur itu ialah menggunakan nikmat dari Allah S.W.T. untuk ta’at kepada-Nya.

Diibaratkan sbb :.

Ayah kita memberi uang, kalau uang itu dipakai yang baik-baik yang disukai oleh ayah kita artinya kita bersyukur kepada ayah kita. Tetapi kalau uang itu dipakai untuk hat-hal yang tidak disukai oleh ayah kita itu berarti kita tidak bersyukur terhadap ayah kita.

Allah memberi kita akal untuk berfikir, lalu akal itu kita pergunakan untuk berfikir yang bukan-bukan, sampai akhirnya ingkar terhadap Allah S.W.T.. itu artinya kufur.

Seperti raja yang menghadiahkan pedang kepada prajuritnya yang berjasa, tapi setelah itu ia jadi berobah. Setelah diterimanya pedang itu dipakainya untuk menusuk dada raja, supaya raja itu tidak ada.

Ini juga sama halnya, Allah memberikan nikmat akal, kalau akal itu dipakai sampai mengatakan bahwa Allah S.W.T. tidak ada, ini bertarti bertentangan  sekali dengan syukur ).

Dan ‘Firman Allah S.W.T. :

 

“Sabarlah engkau, Haman sabarmu tidak mungkin  melainkcin dengan Allah”.

(Ini suatu tanda bahwa Allah menyuruh sabar, harus sabar, dan sabar itu artinya dengan Allah S.W.T)

 

“Hendaklah engkau ikhlas benar-benar kepada Allah”, Ini jelas menunjukkan bahwa ikhlas itu wajib.

Dalam Hadits Rasulullah S.A.W. bersabda

 

 

“Barangsiapa yang ikhlas benar-benar kepada Allah niscaya akan ditunggung segala urusannya dan diberi rizki dari jalan yang tidak disangka-­sangka”.

Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang seperti itu, seperti difirmankan Allah dalam memerintahkan salat dan puasa. Mengapa engkau hanya mau menerima perintah salat dan puasa, tetapi meninggalkan perintah­-perintah fardu seperti tersebut itu (Tawakkul sabar, dsb.) padahal yang memerintahkan satu jua ialah Allah; dan kitabNya, kitab itu jua yakni AI-Qur’an. Malah engkau telah melupakan yang fardu-fardu tersebut, sehingga engkau tidak mengetahui apa-apa dari yang fardu-fardu itu karena pengaruh anjuran dari orang-orang yang telah terpikat oleh dunia, yang terbalik pandangannya, sehingga : yang baik dipandang buruk, dan yang munkar dianggap balk.

Dan anjuran dari orang-orang yang telah meremehkan dan meninggal­kan ilmu yang manfaatnya dinamakan Allah dalam Al-Qur’an dengan nama Nur, dan Hikmah dan Huda, dan mengejar ilmu yang hanya menim­bulkan haram seperti ilmu berbantah-bantahan sebagai alat untuk mengejar kesenangan, duniawi, yang akhirnya pasti hancur.

Wahai orang-orang yang ingin petunjuk dan kebenaran, apakah tidak takut kamu akan termasuk golongan orang yang merusak sesuatu dari kewajiban-kewajiban tsb. hanya mementingkan salat, sunat dan puasa sunat tetapi tidak menghiraukan kewajiban-kewajiban tawakkul dsb. Jika derni­kian, pekerjaanmu tidak ada apa-apanya, bahkan terkadang kamu akan

hanyut tenggelam dalam maksiyat dari beberapa macam maksyiat seperti riya, takabbur dsbnya, yang kesemuanya menjadi sebab kamu masuk neraka.

Dan tidakkah kamu takut akan sia-sia amalmu walaupun berhati-hati sckali, karena apa-apa yang mubah engkau tinggalkan, dengan maksud untuk mendekatkan keridoan Allah, tapi hasilnya tidak tercapai, disebabkan engkau meninggalkan kewajiban tsb. (Tawakkul dsbnya).

Dan lebih parah lagi dari keburukan meninggalkan kewajiban-­kewajiban dan mubah seperti yang tersebut itu, ialah jika engkau masuk perangkap angan-angan/lamunan, yang mendorongmu berkeinginan untuk hidup kekal, berkumpul dan berfoya-foya dengan duniawi, angan-angan itu intinya maksiyat. Karena kamu tidak mengetahui perbedaan antara Niat baik” dan “angan-angan”, sehingga kamu menyangka bahwa angan-­angan itu ialah niat baik, karena keadaannya ada yang hampir bersarnaan.-

Dernikian pula kepanikan dan kegelisahan, disangka rendah hati dan ikhlas berdoa kepada Allah.

Riya dan sum’ah dipandang puji atau disangka sebagai ajakan kebaikan kepada manusia, selanjutnya maksiyat akan dianggap ta’at, dan menyangka bahwa ia banyak mendapat pahala, padahal bahagiannya hanya siksa.

jika demikian, maka kamu berada dalam kekefiran yang besar. dan kekosongan fikiran (goflah) yang buruk.

Setengah ulama mengatakan bahwa goflah itu timbul karena kurang ber­hati-hati dan kurang kesadaran.

Maka gurur dan Goflah adalah satu mushibah yang keji bagi yang beramal  tanpa ilmu.

Golongan-golongan yang tertipu oleh dirinya terbagi 4 bagian; masing-­masing bagian bercabang-cabang menjadi beberapa kelompok pula. Imam Gazali dalamkitab Ihya – telah mengupas tentang hal ini dengan panjang lebar, dan disini akan diterangkan sedikit saja dengan ringkas.

Bagian pertama, ialah Ahli Ilmu.

Yang kena tertipu dari mereka ada beberapa macam, diantaranya : ialah yang hanya mementingkan ilmu-lahir dan akal sampai mendalam sekali, tapi melupakan Ilmu-Batin dan tidak memperhatikan dan meliharaan Batin. Mereka merasa bangga dengan ilmu-lahir dan ilmu-akal itu karena menyangka bahwa mereka sudah mendapatkan kedudukan dan pangkat disisi Allah, dan menyangka pula bahwa mereka sudah sampai kepada ilmu yang dapat membebaskan mereka dari siksa Allah, bahkan mereka, menyangka akan dapat memberi syafaat, dan tidak akan dituntut dosanya.

Yang demikian itu tertipu oleh dirinya sendiri karena Jika mereka insyaf tentu akan menyadari bahwa ilmu itu ada 2 macam

Pertarna : Iltnu Mu’amalah, kedua Ilmu Ma’rifah.

Ilmu Mu’amalah seperti, mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mengetahui mana akhlak yang baik dan mana yang buruk dan mengetahui pula cara-cara mengobati atau menjauhinya.

Mengetahui kesemuanya itu tidak akan ada harganya jika tidak disertai maksud untuk dilaksanakan/diamalkan.

Apa faedahnya bagi orang yang mengetahui benar-benar akan ilmu. bagaimana caranya beribadah, tetapi ia tidak mengerjakannya, tahu akan ilmu serta cara menjauhi ma’siyat, tetapi tidak menjauhinya, pandai tentang ilmu ahlaq tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi kelakuanya bertolak belakang.

Firman Allah :

 

Sungguh beruntunglah orang-orang yang dapat mensucikan dirinya dart sifat-sifat yang tercela”.

Dan tidal: mcnifirmankan :

 

Yang artinya

Beuntunglah orang-orang yang belajar cara-caranya membersihkan jiwa“.

Dalam hal ini syetan membujuk supaya orang jangan terbujuk oleh ayat ini dan berkata: Jangan engkau keliru, bahwa maksudmu itu ingin dekat kepada Tuhan dan ingin dapat ganjaran, maka dengan ilmu, semua itu akan tercapai. Ingatlah sabda Nabi dalam beberapa hadits yang menerang­kan dengan tegas bahwa keagungan seseorang yang berilmu itu sangat besar.C,

Jika keadaan orang itu lemah, kurang fikiran, gampang terbujuk, maka ia akan membenarkan apa saja yang dikemukakan oleh syetan dan tenteramlah hatinya dengan hanya mempunyai ilmu saja sehingga ia melupakan amal. Demikianlah g u r u r itu.

Tapi orang yang cerdik dan waspada, ia akan menjawab bujukan syetan itu, ia akan berkata sbb. : Wahai syetan, engkau hanya mengemukakan hadits-hadits yang menerangkan keagungan berilmu saja dan tidak mengingatkan kepadaku hadits yang menerangkan keburukan-keburukan orang yang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya, yang telah disamakan derajatnya dengan anjing dan himar dan engkau tidak mengingatkan kepadaku hadits yang berbunyi :

 

Artinya :

“Siapa-siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah amalnya, akan bertambah jauh dia dari Allah”.

Dan banyak lagi hadits-hadits yang seperti ini.

Mereka yang gurur itu hanya memperelok lahirnya saja tetapi melupa­kan batin  sedangkan sabda Nabi S.A.W. :

 

Artinya :

“Bahwasannya Allah tidak memandang akan rupa dan hartamu, tapi memandang akan hati dan amalmu”.

Mereka hanya menyiapkan amal lahir dan tidak memelihara hati, padahal hati itu adalah  yang pokok dan seseorang tidak akan selamat, kecuali menghadap kepada Allah dengan hati yang mulus.

Bagian kedua yang tertipu oleh dirinya adalah golongan ahli ibadah dan ahli beramal. Inipun banyak sekali ragamnya, diantaranya adalah golongan yang hanya mementingkan fadilah dan sunnah saja, tetapi mere­mehkan fardu, kadang-kadang mereka tenggelam sampai dalam sekali, mereka mengejar fadilah dan sunnah itu, sampai timbul pertentangan yang berlarut-larut, seperti ada orang yang waswas dalam berwudu. Mereka sangat keterlaluan dan berhati-hati sekali dalam memakai air, ingin yang sempurna sekali/fadilah, sehingga tidak tenteram hatinya dalam memper­gunakan air yang telah ditetapkan sucinya olch fatwa Syara’, dan menntakdir­kan ihtimal-ihtimal dalam bentuk najis, yang jauh ditakdirkan dekat. sehingga akhirnya ia bersusah payah mencari air dan terkadang luput mengerjakan yang fard

Ada lagi golongan yang waswas dalam salat. Syetan tidak mcin­biarkan dia untuk mendapatkan niat yang syah, malah terus mengacaukan­nya sampai ia tidak dapat berjamaah atau sampai keluar/habis waktu salat. Dan bila dapat melaksanakan niat, masih juga ia ragu-ragu dalam ‘hatinya, apakah niatnya itu sah atau tidak.

Ada lagi yang waswas dalam mengucapkan takbir sampai kadang­kadang merobah bunyinya, dan kewas-wasannya itu terus merembet kese­luruh pekerjaan salat, mulai dari takbir dan seterusnya, ia selalu ragu-ragu dalam hatinya. Mereka mengira, bahwa dengan bersusah payah dalamn niat dan sebagainya, ia sudah mendapatkan kelebihan dari orang lain. dan menyangka bahwa pekerjaannya itu dinilai baik oleh Allah, padahal yang demikian itu hanyalah gurur semata-mata.

Ada lagi sebagian, yang waswas dalam membacakan huruf-huruf Fatihah dan bacaan-bacaan lainnya, hatinya selalu tertuju pada pengamatan dan mengintai tasydid, perhatiannya khusus tertuju pada perbedaan bunyi ..

Bersambung..insya Allah

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2012 in Religi, sufi

 

Tag:

Terjemah Minhajul Abidin bagian 2

Sebab api yang menyala-nyala itu, yang disebut dalam Al-Qur’an, hanya akan memakan orang-orang yang dihijab itu.

Adapun, orang mukmin yang sehat hatinya, jadi tidak tertambat oleh hubbud-dunya, dan menghadap kepada Allah S.W.T. yaitu yang disebut dalam firman Allah S.W.T. :

 

“Pada hari itu, hari manusia meninggalkan dunia, tidak ada gunanya uang dan anak-anak. Yane selamat hanyalah orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat”, artinya sehat tidak ada penyakit hubbud­dunya. “.

Kepada orang itu, maka api neraka berkata “Boleh engkau liwat wahai orang mukmin, sebab nur yang ada dihati­mu itu sudah memadamkan nyala apiku”.

Ini diriwayatkan dalam hadits Ya’la bin Munabbih.

Kalau kebetulan dicabut nyawanya dalam keadaan tertarik oleh hubbud-dunya, dikuasai oleh hubbud-dunya (hubbud dunya itu cinta dunia yang  tidak ada. hubungannya dengan akhirat), ini sangat berbahaya sekali.

Sebab, manusia itu matinya bagaimana hidupnya, begitu hidupnya begitu pula matinya, juga begitu matinya begitu pula bangkitnya dari kubur, jadi keadaannya berantai.

Apabila engkau bertanya : “Apa yang menyebabkan suul chotimah itu ?”.

Maka jawabnya

Ketahuilah bahwa sebab-sebabnya banyak, tidak bisa diperinci satu persatu, tetapi bisa ditunjukkan pokok-pokoknya saja.

Adakalanya karena mati dalam keragu-raguan dan dalam keadaan terhijab.

Sebab-sebabnya bisa disingkatkan menjadi 2 sebab.

Pertama :

Seseorang bisa jadi suul-chotimah, padahal dia itu seorang yang waro’, zuhud dan saleh.

Mengapa sampai demikian ? ? ?

Karena didalam iktikadnya ada bid’ah, bertentangan dengan iktikad yang ditekadkan oleh Rasulullah S.A.W., sahabat dan tabi’in.

la memang rajin salatnya, rajin membaca Al-Qur’an, sampai kata Rasulullah (tentang khawarij itu) : “Membaca AI-Qur’an lebih rajin dari kamu (para sahabat) dan salatnya lebih rajin daripada kamu; sampai masing‑

19

masing jidatnya ada hitamnya, tetapi mereka membaca Al-Qur’an tidak sampai kelubuk hatinya dan salatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T.”.

Oleh karena itu iktikad bid’ah didalam hati adalah sangat berbahaya, seperti mengiktikadkan apa-apa yang nantinya dapat menyesatkan dia kepada kepercayaan bahwa Allah seperti makhluk.

mlisalnya : betul-betul duduk didalam Aras.j, padahal Allah itu laisa, kamislihi syai’un.

Kelak apabila pintu hijab itu telah terbuka, maka dapatlah diketahui bahwa Allah itu tidaklah sebagaimana yang kulukiskan dalam hati, akhir­nya nanti akan ingkar kepada Allah.

Nah dikala itu ia akan mati dalam suul-chotimah. Kelak kalau orang sudah sakaratulmaut dan terbuka hijab, baru menyadari bahwa urusan ini demikianlah sebenarnya.

Kalau tidak sama dengan apa yang ditekadkan dihatinya, dia akan bingung.

Nah, dalam keadaan begitu dia matinya dalam soul-chotiniah, meskipun amal-amalannya baik, naudzubillah.

Maka yang paling penting itu adalah iktikad.

Tiap-tiap orang yang salah iktikad karena pemikirannya sendiri atau karena ikut-ikutan pada orang lain, ia jatuh dalam bahaya ini.

Kesolihan dan kezuhudan serta tingkah laku yang baik, juga tidak mampu untuk menolak bahaya ini. Bahkan tidak ada yang akan menyelamatkan dirinya melainkan iktikad yang benar.

Karena itu perhatian leluhur kita kepada yang baik-baik karena didasari i’tikad baik.

Orang yang pikirannya sederhana adalah lebih selamat. sederhana, tidak berfikir secara mendalam, meskipun bisa dikatakan orang kurang ilmunya, tapi ia lebih selamat daripada orang yang berlagak mempunyai ilmu, tapi dasar iktikadnya tidak benar.

Orang yang sederhana itu, ialah orang yang beriman kepada Allah. kepada Rasul-Nya, kepada Akhirat, dan ini hanya garis besarnya saja. Nah inilah yang selamat.

Kalau kita tidak mempunyai waktu untuk memperdalam pengetahuan ilmu Tauhid, maka usahakan dan perjuangkan agar dalam garis besarnya kita tetap yakin dan percaya; seperti itu sudah selamat.

Cukup kalau didalam hatinya ia berkata :

“Ya saya beriman kepada Allah S.W.T., hakekatnya berserah diri kepada Allah, dan iman kepada akhirat dsb.nya, dalam garis besarnya saja.

Terus dia beribadah dan mencari rizki yang halal dan mencari pengetahuan yang berguna bagi masyarakat, sebetulnya itu lebih selamat bagi orang yang tidak sempat belajar secara mendalam.

Tapi iman yang hanya secara garis besarnya saja harus kuat; seperti petani-petani yang jauh dari kota dan orang-orang awam yang tidak berkecimpung dalam perdebatan yang tidak menentu.

Rasulullah suka memperingatakan, pada suatu waktu ada orang-­orang yang sedang berdebat tentang takdir sampai berlangsung lama, melihat ini Rasulullah sampai merah padam wajahnya, lalu berpidato :

“Sesatnya orang-orang yang dulu itu, karena suka berdebat, antara lain tentang qodo dan qodar”.

Dan beliau bersabda :

 

“Orang-orang yang asalnya benar, tapi kemudian sesat, itu dimulai karena suka berbantah-bantahan”.

Berbantah-bantahan itu kadang-kadang memperebutkan hal-hal yang tidak ada gunanya.

Sabda Rasulullah

 

“Sebagian besar dari penghuni surga itu adalah orang-orang yang pikirannya sederhana saja”.

Tidak waswas, cukup dengan garis besarnya saja dalam hal iktikad.

Ini diriwajatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sju’abil iman. Karena itu, maka leluhur kita suka melarang orang ngobrol; jangan suka ngutik-ngutik soal orang lain urus saja, kaji saja, soal bagaimana supaya ibadah sah, supaya kamu bisa mencari rizki yang halal.

Boleh saja kamu menjadi tukang sepatu, jadi petani, atau jadi dokter, pokoknya jangan ngutik-ngutik sesuatu, kalau bukan ahlinya.

Leluhur kita suka memberi nasihat demikian. Karena kasihan, gunanya belum tentu, tapi bahayanya sudah nampak.

Garis besarnya adalah sbb. :

Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an saya percaya dan kalau ada ayat­-ayat Al-Qur’an yang saya tidak mengerti, saya serahkan kepada Allah S.W.T. dan apa yang dalam hadits saya percaya.

Bagi orang-orang awam yang bukan ahli, garis besarnya, cukup demikian, pokoknya kita jangan menyekutukan Tuhan dengan apa pun pegang saja laisa kamislihi syai’un.

Apa yang terlintas dihati, sebetulnya hanya buatan hati saja, tempo-tempo timbul was-was yang dilakukan oleh syaitan, maka tolaklah itu. Bagaimana Allah itu ? ? ? Wallhu a’lam.

karena leluhur kita suka melarang, jangan main tawil-tawilan diselingi dengan ayat AI-Qur’an, katanya agar dimengerti oleh pikiran yang sehat, akhirnya ketika dicocokkan dengan undang-undang alam, padahal teori itu berobah. Dulu ‘ada orang yang suka mencocokkan ayat-ayat AI-Qur’an dengan teori-teori ilmu fisika dsb.nya, akhirnya teori-teorinya itu berobah. Orang yang, berbuat seperti itu sudah mati dan tafsirannya hanya menjadi sampah belaka.

Sebab sudah ternyata toorinya itu bisa berobah, sedangkan dia sudah mendasarkan tafsirnya pada Al-Qur’an bagi teori-teori itu, lalu dibawanya mati, ini berbahaya sekali.

Karena itu, kita jangan mencoba-coba berani menafsirkan AI-Qur’an hanya was dasar pikiran raba-raba saja. Sebab ilmu pengetahuan, baik yang lama maupun yang modern, dasarnya hanya pengalaman dlan percobaan, hanya merupakan perhitungan saja.

Pada hakekatnya, mereka belum mengetahui, apa hakekatnya elektrisitet, demikian pula mereka belum mengetahui hakekatnya apa yang dinamakan e a t h e r.

Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita berani mendasarkan itikad yang, hanya didasarkan pada hasil perhitungan saja.

Sebaiknya kita mengetahuinya secara global saja, sebab hal itu ada yang melarang, agar pintunya jangan dibuka sama sekali.

Karena ada orang yang mendapat ilham dari Allah dengan dibersihkan hatinya dan inkisyaf (terbukanya hijab), sebelum mati sudah inkisyaf, nanti setiap orang iuga inkisyaf, meskipun bukan wali. Namun walipun tempo-tempo selagi hidup sudah inkisyaf.

Para Wali tahu akan adab kesopanan, mereka diam, karena tidak ada bahasa yang cukup untuk menerangkannya, seandainya hal ini dibahas, maka akan banyak sekali bahaya-bahayanya.

Tanjakan-tanjakannya sulit, akal lahir tidak mampu kalau dipakai untuk menyusun/mengoreksi sifat dan zat Allah S.W.T.

Dan didekatinya oleh arifin itu dengan rasa saja, tidak dengan akal lahir tapi dengan rasa bathin. Dan rasa bathin itu belum ada bahasanya, hanya tempo-tempo beliau-beliau itu mengadakan istilah untuk dipakai diantara beliau-beliau saja. Ini sebab yang pertama.

Sebab yang kedua bagi suul-khotimah itu, karena imannya saja yang lemah dan lemah iman itu banyak sebab-sebabnya, sebagian besar dari campur gaul. Kalau orang bercampur gaul dengan orang-­orang yang lemah imannya, apalagi bergaul dengan orang yang suka -nengejek, maka akan makin lemah saja imannya. Dan juga dari bacaan-bacaan, kalau orang sudah gandrung membaca apa-apa yang bisa melemahkan iman, akhirnya orang itu jadi atheis, dan benar-benar kufur.

Kedua, sebab dari lemah iman itu ditambah oleh suatu istilah hatinya dikuasai oleh hubbud-dunya.

Sudah imannya lemah, dikuasai pula oleh hubbud-dunya. Mementingkan diri sendiri dalam soal-soal keduniawian itu artinya hubbud-dunya. Kalau iman sudah lemah, cinta kepada Allah juga jadi lemah, dan kuat cintanya kepada dunia yang berarti mementingkan diri sendiri dalam soal-soal keduniawian.

Akhirnya kalau sudah dikuasai betul-betul oleh hubbud dunya, tidak ada tempat untuk cinta. kepada Allah S.W.T.

Hanya itu saja yang terlintas dihati; oh, cinta kepada Allah, Allah Pencipta diriku.

Tapi pengakuan ini hanya merupakan hiasan bibir batin saja. Hal inilah yang menyebabkan dia terus menerus melampiaskan syahwatnya, sehingga hatinya menghitam dan membatu, bertumpuk-tumpuk kegelapan dosa itu dihatinya.

Imannya semakin lama, semakin padam; akhirnya hilang sama sekali dan jadilah ia kufur, hal ini sudah menjadi tabiat.

Firman Allah S.W.T. :

 

“Hati mereka itu sudah dicap, jadi mereka tidak bisa mengerti”.

Dosa mereka merupakan kotoran yang tidak bisa dibersihkan dari hatinya.

Kalau sudah datang sakarat, maka cinta mereka kepada dunia yang berarti mementingkan diri sendiri semakin kuat, sehingga cinta mereka kepada Allah semakin lemah, sebab mereka merasa berat dan sedih meninggalkan dunianya, karena keduniawian sudah menguasai diri mereka.

Setiap orang yang meninggalkan kecintaannya tentu akan merasa sedih. Lalu timbul dalam fikirannya :

“Kenapa Allah mencabut nyawaku

Kemudian berobah hati murninya, sehingga dia membenci takdir Allah. Kenapa Allah mematikan aku dan tidak memanjangkan umurku ?

Kalau matinya dalam keadaan demikian, maka ia mati dalam keadaan suul­chotimah, naudzubillah.

Demikianlah keterangan singkat dari Imam Gazaly dalam kitabnya lhya. Kemudian engkau wajib mengetahui, apa yang harus engkau kerjakan,yaitu : salat, puasa dll. menurut sebagaimana mestinya yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. supaya engkau bisa memenuhi sepenuh mungkin, dan engkau juga harus mengetahui apa yang perlu dan wajib ditinggalkan, yaitu larangan-larangan dari Allah S.W.T. seperti : riya, udzub, dsb.nya; yaitu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2012 in Religi, sufi